BLOG IKI

BLOG KULAWARGA PUTRA-WAYAH SAKA SAWARGI MBAH MARWAH LAN MBAH BINEM NGARENGAN KIDUL, PLOSOREJO, KEDUNGGALAR, NGAWI, JAWA TIMUR.

Jumat, 01 Juni 2012

PATULADHAN

Jiwa Besar Buya Hamka Terhadap Lawan Politiknya

Pesan Terakhir Mr. Moh. Yamin dan Soekarno Menjelang Ajal serta Pesan Penting Pramudya Ananta Tur


فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا فِطْرَةَ اللهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30).

Rangkaian tulisan berikut adalah penggalan dari perjalanan hidup Prof. KH. Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka yang dikisahkan oleh putra kelima beliau, yakni KH. Irfan Hamka di dalam bukunya Kisah-Kisah Abadi Bersama Ayahku Hamka.1

Penggalan ini berkisah tentang kebesaran jiwa dan sifat pemaaf Buya Hamka kepada lawan-lawan politiknya secara ideologis: antara Islam, nasionalis dan komunis yang diwakili para tokohnya yakni pencetus penggali Pancasila Mr. Moh.Yamin dan Soekarno serta tokoh Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) Pramudya Ananta Tur; padahal tak jarang demi mempertahankan dan membela keyakinannya itu Buya Hamka harus masuk penjara, difitnah, disingkirkan, dimiskinkan namun kesabaran beliau dalam menghadapi ujian itu berbuah menjadi hikmah yang luar biasa yang diantaranya terungkap dalam penggalan kisah berikut ini yang insya Allah dapat membuka mata hati siapapun yang membacanya, meresapinya dan menghayatinya untuk menetapi jalan Islam menuju keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selamat membaca.


Pesan Terakhir Mr. Mohammad Yamin


Masih ada lagi bukti-bukti bagaimana kebesaran jiwa dan pemaafnya ayahku (Buya Hamka – pen.). Susah kita mengukur pribadi orang yang memiliki jiwa sebesar ayahku, Hamka.

Dalam tulisan yang kusiapkan, penulis ini berusaha menghindari penilaian yang subyektif karena aku anak beliau. Kucoba merangkai bagaimana sifat pemaaf yang begitu ikhlas diberikan ayah kepada orang-orang yang membencinya. menzalimi dan memfitnah.

Tahun 1955 sampai 1957, sebagai seorang anggota Konstituante dari Fraksi Partai Masyumi, ayah cukup aktif dalam sidang merumuskan Dasar Negara Rl. Ada 2 pilihan untuk dasar negara kita; pertama, UUD 1945 Negara berdasarkan Islam. Kedua, UUD 1945/ dengan dasar negara Pancasila

Untuk kedua pilihan dasar negara itu, terbuka dua front yang sama kuat. Front pertama tentu saja kelompok Islam. Masyumi sebagai pimpinannya, mengajukan dasar negara berdasarkan Islam. Front kedua, dipimpin PNI, Partai Nasional Indonesia ingin negara berdasarkan Pancasila.

Dalam suatu acara persidangan ayah menyampaikan pidato politiknya, dengan beraninya menyampaikan isi pidatonya:

"Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka … "

Tentu saja para hadirin dalam sidang paripurna Konstituante itu terkejut mendengar pernyataan ayah. Tidak saja pihak pendukung Pancasila, juga para pendukung negara Islam sama-sama terkejut.

Mr. Moh. Yamin sebagai seorang anggota Konstituante dari Fraksi PNI turut terkejut atas pernyataan ayah itu. Tokoh PNI itu tidak saja marah, berlanjut menjadi benci. Walaupun kedua tokoh yang berseberangan sama-sama dari Sumbar. Moh Yamin tidak dapat menahan kebencian- nya kepada ayah. Baik bertemu dalam acara resmi, seminar kebudayaan dan sama-sama menghadiri sidang Konstituante, kebencian itu tetap tak dapat dihilangkannya. Akibat dari pidato ayah, bahwa menjadikan Pancasila sebagai dasar negara sama saja merintis jalan ke neraka, sedangkan Mr. Moh. Yamin sangat percaya pada mitos bahwa penggali Pancasila itu Soekarno.

Penulis masih ingat ketika rumah kami kedatangan tamu Buya KH. Isa Anshari. Ulama sekampung dengan kampung kami Maninjau, beliau sudah lama bermukim di Kota Bandung Dalam acara makan siang, Buya KH. Isa Anshari bertanya kepada ayah; "Apa masih tetap Yamin bersitegang dengan Hamka ?"

Ayah menjawab, "Rupanya bukan saja wajahnya yang diperlihatkan kebenciannya kepada saya, hati nuraninya pun ikut membenci saya."

Bertahun-tahun setelah dekrit di mana Soekarno kemudian membubarkan Konstituante, parlemen dan menetapkan UUD '45 dan Pancasila sebagai dasar negara, terjadi peristiwa yang luar biasa. Tahun 1962; Mr. Moh. Yamin jatuh sakit parah dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, RSPAD. Ayah mengetahuinya dari berita koran dan radio. Ayah menerima telepon dari Bapak Chairul Saleh, salah seorang menteri pada waktu itu. Menteri ini ingin datang bersilaturahim kepada ayah dan menyampaikan perihal sakit Mr. Moh. Yamin.

Chaerul Saleh datang menemui ayah di rumah. Kepada ayah, menteri di era Soekarno ini menceritakan perihal sakitnya Mr. Moh. Yamin.

"Buya, saya membawa pesan dari Bapak Yamin. Beliau  sakit sangat parah. Sudah berhari-hari dirawat. Saya sengaja datang menemui Buya. Ada pesan dari Pak Yamin, mungkin merupakan pesan terakhir. “
"Apa pesannya?" tanya ayah.

"Pak Yamin berpesan agar saya menjemput Buya ke rumah sakit. Beliau ingin menjelang ajalnya, Buya dapat mendampinginya, sekarang Pak Yamin dalam sekarat."

Ayah agak tercengang mendengar pesan Pak Yamin itu.  Teringat kembali sikap bermusuhan dan membencinya.

"Apalagi pesan Pak Yamin?” Kembali ayah bertanya kepada menteri yang ditugaskan Pak Yamin itu.

"Begini Buya, yang sangat merisaukan pak Yamin, beliau ingin bila wafat dapat dimakamkan di kampung halamannya yang telah lama tidak dikunjungi. Beliau sangat khawatir masyarakat Talawi tidak berkenan menerima jenazahnya. Ketika terjadi pergolakan di Sumatara Barat, Pak Yamin turut mengutuk aksi pemisah-an wilayah dari NKRI. Beliau mengharapkan sekali Hamka bisa menemaninya sampai ke dekat liang lahatnya. "

Hanya sebentar ayah termenung. Banyak pengalaman pahit yang dirasa oleh ayah selama beberapa tahun ini dengan tokoh yang mengaku wajahnya mirip dengan Patih Majapahit Gajah Mada itu.  "Kalau begitu mari bawa saya ke RSPAD menemui beliau."

Sore itu juga ayah dan Pak Chaerul Saleh tiba di rumah sakit. Dalam ruangan VIP, banyak pengunjung. Ada Pendeta, Biksu Budha dan pengunjung yang lain. Pak Yamin terbaring di tempat tidur dengan slang infus dan oksigen tampak terpasang. Melihat kedatangan ayah tampak wajahnya agak berseri. Dengan lemah Pak Yamin menggapai ayah untuk mendekat. Salah seorang pengunjung meletakkan sebuah kursi untuk ayah duduk di dekat tempat tidur. Ayah menjabat tangan Pak Yamin dan mencium kening tokoh yang bertahun-tahun membenci ayah.

Dengan suara yang hampir tidak terdengar dia berkata: " Terima kasih Buya sudi datang." Dari kedua kelopak matanya tampak air mata menggenangi matanya.

"Dampingi saya," bisiknya lagi. Tangan ayah masih terus digenggamnya.

Mula-mula ayah membisikkan surat Al Fatihah. Kemudian kalimat La ilaha illallah Muhammadan Rasalullah. Dengan lemah Pak Yamin mengikuti bacaan ayah. Kemudian ayah mengulang kembali membaca dua kali. Pada bacaan kedua ini tidak terdengar Pak Yamin mengikuti, hanya dia mem-beri isyarat dengan mengencangkan genggaman tangannya ke tangan ayah. Kembali ayah membisikkan kalimat "tiada Tuhan selain Allah" ke telinga Pak Yamin. Tidak ada respon. Ayah merasa genggaman Pak Yamin mengendur dan terasa dingin dan terlepas dari genggaman ayah.

Seorang dokter datang memeriksa. Dokter itu memberitahu Pak Yamin sudah tidak ada lagi.

"Innalillahi wa inna lillaihi rajiun."

Tokoh yang bertahun-tahun sangat membenci ayah, diakhir hayatnya meninggal dunia sambil bergenggaman tangan dengan ayah.

Dari rumah sakit ayah diajak Bapak Chairul Saleh ke Istana Negara. Waperdam III (Wakil Perdana Menteri III) ini ingin melapor atas wafatnya Pak Yamin kepada Presiden Soekarno. Pemerintah telah mempersiapkan acara pemakaman kenegaraan di TMP Kalibata, Jakarta.

Karena wasiat terakhir Pak Yamin ingin dimakamkan di kampung halaman Talawi, Sawah Lunto. Presiden memerintahkan Gubernur Sumatera Barat Drs. Harun Zen untuk mempersiapkan upacara kenegaraan.

Sebelum meninggalkan istana, Presiden Soekarno menyalami ayah sambil berucap: "Terima kasih atas kebesaran jiwa Bung turut mendampingi Yamin menjelang wafatnya dan bersedia mengantarnya ke Talawi. Atas nama pribadi dan  pemerintah saya ucapkan terima kasih."

(Ini adalah pertemuan terakhir antara ayah dan Presiden Soekarno, 2 tahun kemudian ayah dicebloskan ke penjara atas perintah Soekarno).

Keesokan harinya, memenuhi pesan terakhir Almarhum Pak Yamin, agar ayah bersedia menemani jenazahnya dimakamkan di Kampung Talawi, Sawah Lunto Sumatera Barat dikabulkan ayah.

Proses pemakaman dilakukan dengan upacara kenegaraan. Inspektur upacaranya bapak Menteri Chaerul Saleh. Siang itu juga ayah kembali ke Jakarta.

(Cerita dengan Pak Yamin ini penulis mendengar dari ayah sendiri dan terakhir dari saudara Syakir Rasyid putra Buya St. Mansur yang ikut mendengar Iaporan ayah kepada guru beliau A.R. St. Mansyur sepulang dari Talawi di rumah Buya St. Mansyur).

Pesan Terakhir Soekarno


Dua tahun 4 bulan Iamanya ayah ditahan atas perintah Presiden Soekarno, waktu itu dari tahun 1964-1966, dengan tuduhan melanggar undang-undang Anti Subversif Pempres No. 11, yaitu tuduhan merencanakan pembunuhan Presiden Soekarno.

Betapa beratnya penderitaan kami sepeninggal ayah yang ditahan. Buku-buku karangan ayah dilarang. Ayah tidak bisa Iagi memenuhi undangan untuk berdawah. Pemasukan uang terhenti. Untuk menyambung hidup ummi mulai menjual barang dan perhiasan.

Ayah baru bebas setelah rezim Soekarno jatuh, digantikan oleh Soeharto. Ayah kembali melakukan kegiatan seperti sebelum ditahan Soekarno.

Tanggal 16 Juni 1970, ayah dihubungi oleh Bapak Kafrawi, Sekjen Dep. Agama. Pagi-pagi sekjen ini datang ke rumah, Pak Kafrawi membawa pesan dari keluarga mantan Presiden Soekarno untuk ayah. Pesan itu pesan terakhir dari Soekarno, begini pesannya; “Bila aku mati kelak. minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku."

“Jadi beliau sudah wafat?" Ayah bertanya ke Pak Kafrawi.

"Iya Buya. Bapak telah wafat di RSPAD, sekarang jenazahnya telah di bawah ke Wisma Yaso." (Ini versi pertama).

Ada satu versi lagi menyatakan bahwa dalam keadaan sekarat mantan Presiden RI ini menyampaikan pesannya kepada keluarga beliau, bahwa bila datang ajalnya, beliau ingin yang menjadi imam sembahyang jenazahnya dilakukan oleh Hamka. Pesan itu disampaikan oleh keluarganya kepada Presiden Soeharto yang telah menggantikan beliau sebagai Presiden RI ke-2.

Presiden Soeharto mengutus salah seorang Aspri (Asisten Pribadi)nya Mayjen Suryo menemui Buya Hamka di rumah JI. Rd.Fatah, didampingi seorang sekjen Dep. Agama RI. Kepada ayah utusan Presiden Soeharto itu menyampaikan permintaan terakhir Soekano. Tanpa ragu pesan yang dibawa utusan Presiden Soeharto dilaksanakan oleh ayah.

Ayah tiba di Wisma Yaso bersama penjemputnya. Di wisma itu telah banvak pelayat berdatangan, penjagaan pun sangat kuat. Shalat jenazah baru akan dimulai menunggu kehadiran ayah. Ayah dengan mantap menjadi imam jenazah Soekarno. Pesan terakhir mantan Presiden Pertama dengan ikhlas dijalankan oleh ayah.

Aku sangat menyesal tidak bisa mengikuti peristiwa ayah dijemput untuk mengimami sholat jenazah mantan Presiden Soekarno dari dekat karena berada di luar kota Jakarta. Dalam menyiapkan buku ini menyangkut pesan terakhir Soekarno aku harus mencari inrormasi. Tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa itu banyak yang sudah meninggal dunia termasuk almarhum abangku H. Zaky Hamka yang ikut menemani ayah ke Wisma Yaso.

Hubungan antara ayah dan Bung Karno telah terjalin sejak tahun 1941. Selesai menghadiri Muktamar Muhammadiyah ke-30 di Yogyakarta, Januari 1941, atas ajakan H. Abdul Karim (Oei Tjing Hin) Konsul Muhammadiyah Bengkulu seorang Tokoh Cina Muslim, menemui Soekano di tempat pengasingannya di Bengkulu. Dalam pertemuan selama 2 jam itu hubungan keduanya jadi akrab. Untuk kenang-kenangan mereka berfoto bersama.

Tahun 1946 setelah kemerdekaan, Soekarno telah diangkat menjadi Presiden RI pertama, Presiden mengajak ayah untuk pindah dari Medan ke Jakarta. Namun karena situasi tanah air yang belum selesai urusannya dengan Belanda, terjadi aksi polisionil pertama tahun 1947 permintaan Presiden tertunda. Pada tahun berikutnya 1948 Presiden Soekarno berkunjung ke Sumatera Barat. Kembali ayah bertemu dengan Soekarno di Bukit Tinggi. Pada kesempatan itu ayah menghadiahkan sebuah puisi kepada Presiden Pertama itu dengan judul "Sansai juga aku kesudahannya.”

Setelah penyerahan Kedaulatan 1949, di awal 1950 ayah mengajak kami pindah ke Jakarta. Pada peringatan Isra' Miraj Nabi Muhammad SAW tahun 1950, ayah diminta Presiden Soekarno memberikan wejangan tentang rahasia Isra' Miraj di Istana. Hubungan baik terus berlanjut. Sewaktu pelaksanaan shalat ldul Fitri tahun 1951 diadakan di Lapangan Banteng yang diselenggarakan oleh PHBI (Panitia Hari Besar Islam) Jakarta aku turut diajak ayah, ayah duduk berdampingan dengan Presiden kita waktu itu. Aku duduk diapit ayah dan Soekarno. Aku sangat bahagia karena aku diperkenalkan ayah ke Soekarno.

Aku bersalaman dengan Presiden kita yang gagah itu. Kulit wajah beliau putih kemerah-merahan, segar. Tatapan matanya kuat ketika bersalaman denganku. Usiaku ketika itu 8 tahun. Bila aku ingat kejadian itu, aku sering tersenyum sendiri karena Presiden kita itu memakai kaus kaki yang robek di ujung sebelah kanan. Sambil mengikuti takbir Presiden RI Pertama itu tampak asyik mengelus-elus jempol kakinya yang tersembul dari robekan kaos kaki kanannya.

Tahun 1955 ayah terpilih menjadi anggota Konstituante. Sejak itu hubungan akrab dengan Soekarno mulai renggang. Ayah dengan segenap fraksi Partai Islam memperjuangkan negara berdasarkan Islam. Sedangkan Presiden Soekarno ingin mempertahankan negara berdasarkan Pancasila. Sejak itu hubungan dua orang yang sebelumnya seperti bersaudara terputus. Baru tahun 1962 mereka bertemu kembali ketika ayah turut menyelenggarakan jenazah Mr. Moh. Yamin. Dua tahun kemudian ayah ditangkap atas perintah Presiden Soekarno.

Setelah 8 tahun kemudian 1970, kedua orang yang dulu-nya bersahabat dipertemukan kembali, hanya situasinya berbeda. Soekarno berada dalam peti jenazah, ayah berdiri di dekat peti jenazah itu bertindak sebagai imam sembahyang jenazah orang yang pernah menjebloskan diri beliau masuk penjara selama 2 tahun 4 bulan. Tampak benar bagi penulis, walaupun keadaan dua orang ini berbeda paham politik yang tajam, namun dalam hati mereka tetap menjaga tali silaturahmi. Soekarno tidak membenci ayah. Begitu pula ayah pun tidak dendam kepada Soekarno.

Akibat ayah mengimami jenazah Soekarno, teman-teman ayah banyak yang menyesalkan tindakan ayah itu. Ada yang mengatakan bahwa Soekarno itu munafiq. Ada pula yang bertanya: "Apa Buya tidak dendam kepada orang yang telah membenamkan Buya dalam penjara?"

Dengan lemah lembut ayah menjawab semua kritik itu. "Hanva Allah yang lebih tahu orang-orang yang munafiq Dan saya harus berterima kasih, karena dalam penjara saya dapat kesempatan menulis tafsir Al-Quran 30 juz. Satu hal lagi jangan dilupakan bahwa almarhum memprakarsai pembangunan 2 buah masjid yang monumental, satu masjid Baiturrahim di Istana Merdeka. Satu lagi masjid terbesar di Asia Tenggara, Masjid Istiqlal. Semoga ini menjadi amal yang tak terhingga untuk Soekarno.”

Pesan Pramudya Ananta Tur


Awal tahun 1963, dunia sastra kita digemparkan oleh dua surat kabar Harian Ibukota: Harian Rakyat dan Harian Bintang Timur. Kedua koran milik Komunis ini menyiarkan di halaman pertama dengan berita Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck hasil jiplakan oleh pengarang Hamka. Ulasan berita itu dilansir oleh seorang penulis bernama Ki Panji Kusmin. Sedangkan di harian Bintang Timur dalam lembaran Lentera, juga memuat dan mengulas bagaimana Hamka mencuri karangan asli dari pengarang Alfonso Carr, pujangga Prancis. Lembaran Lentera ini diasuh oleh Pramudya Ananta Tur.

Berbulan-bulan lamanva kedua koran komunis ini menyerang ayah dengan tulisan-tulisan berbau fitnah, juga menyerang secara pribadi.

Aku lihat ayah tenang-tenang saja menghadapi segala hujatan dari Ki Panji Kusmin dan Pramudva Ananta Tur itu.

Penulis waktu itu sekolah di SMAN IX merasakan tekanan batin juga. Guru Sastra lndonesiaku seorang guru PGRI Vak Sentral begitu pula dengan guru civicku dengan gaya mengejek selalu menanyakan kesehatan ayah dan tidak lupa berkirim salam. Kupingku terasa panas bila kedua guruku itu bertanya kepadaku. Begitu pula halnya dengan saudara-saudaraku yang lain. Apalagi membaca kedua koran yang sengaja dikirim ke rumah secara gratis.

PKI melakukan usaha kudeta tanggal 30 September 1965 namun gagal. Dalam usaha kup itu 6 jenderal dan 1 perwira gugur dibunuh PKI. Akibat kegagalan kup PKI itu, kedua guru SMA-ku itu diberhentikan sebagai guru dan pegawai negeri, dan Pramudya Ananta Tur ditahan di Pulau Buru. Bertahun-tahun kemudian Pramudya Ananta Tur dibebaskan, kemudian melakukan kegiatan lagi. Ayah tidak pernah berhubungan dengan tokoh Lekra yang tidak pernah bosan menyerang ayah di kedua koran Komunis itu.

Suatu hari, ayah kedatangan sepasang tamu. Si perempuan orang pribumi, sedang laki-lakinya seorang keturunan Cina. Kepada ayah si perempuan memperkenalkan diri. Namanya Astuti, sedangkan si laki-laki bernama Daniel Setiawan. Ayah agak terkejut ketika Astuti menyatakan bahwa dia anak sulung Pramudya Ananta Tur. Astuti menemani Daniel menemui ayah untuk masuk Islam sekaligus mempelajari agama Islam. Selama ini Daniel non muslim. Pramudya tidak setuju anak perempuannya yang muslimah nikah dengan laki-laki yang berbeda kultur dan beragama lain.

Hanya sebentar ayah berfikir. Tanpa ada sedikitpun keraguan permohonan kedua tamu itu dikabulkan oleh ayah. Daniel Setiawan calon menantu Pramudya Ananta Tur langsung di-Islam-kan oleh ayah dengan menuntunnya membaca dua kalimat syahadat. Ayah menganjurkan Daniel berkhitan dan menjadwalkan untuk memulai belajar agama Islam kepada ayah.

Dalam pertemuan dengan putri sulung Pramudya dan calon menantunya itu ayah tidak ada sama sekali berbicara masalah Pramudya dengan ayah yang pernah terjadi berselang lama waktu itu. Ayah betul-betul telah dihancurkan nama baiknya oleh Pramudya Ananta Tur melalui corong Komunis di harian Bintang Timur dan Harian Rakyat.

Salah seorang teman Pramudva bernama Dr. Hudaifah Kuddah menanyakan kepada Pramudya alasan tokoh Lekra ini mengutus calon menantunya menemui Hamka. Dengan serius Pram menjawab:

"Masalah faham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka. Dialah seorang ulama yang terbaik."

Menurut Dr. Hudaifah yang tertuang dalam majalah Horison, Agustus 2006, secara tidak langsung tampaknva Pramudya Ananta Tur dengan mengirim calon menantu ditemani anak perempuan seakan minta maaf atas perilakunya memperlakukan ayah di Harian Bintang Timur dan Harian Rakyat. Dan secara tidak langsung pula ayah memaafkan Pramudya Ananta Tur dengan bersedia mengislamkan dan memberi pelajaran agama Islam kepada sang calon menantu.

Dalam peristiwa ayah menghadapi ketiga tokoh yang penulis sampaikan dalam buku ini, penulis sengaja tidak memberikan komentar dan menilai ayahku Hamka. Penulis mernbebaskan kepada pernbaca yang budiman menilainya sendiri. Penulis sebagai seorang anak ingin menghindar penilaian kepada ayah secara subyektif. [Sandhi/voa-islam.com]

Minggu, 12 Februari 2012

SINGIR-SINGIRAN



Ikilah singir, singir-singiran
Kena dilaras kanggo selingan,
Ngandhani ati sarta pikiran
Ben ora gampang kegodha setan

Urip neng donya amung sapisan
Tinitahake dening Pangeran
Dimen ngibadah manut aturan
Sing diwulangne Nabi Wekasan.

Nabi Muhammad wis ngajarake
Cara ngibadah mring pangerane
Gak oleh ngawur karepe dhewe
Awit wis ana tata carane

Qur’an lan hadits dhasar agama
Iku tuntunan kanggo manungsa
Nglakoni urip neng ngalam donya
Ben bisa slamet ora cilaka

Qur’an lan hadits dhasar agama
Aja ditambah aja disuda
Aja dicampur ajaran liya
Agama Islam iki wis purna

Yen ana tembung sabda utama
Sing gegayutan karo agama
Aja kesusu gampang percaya
Banjur diturut lan diamalna

Nanging kudune dicocokake
Pitutur mau apa dhasare
Yen nganggo qur’an utawa sunah
Kudu diturut aja dibantah

Nanging yen cengkah kalawan Qur’an
Utawa cengkah klawan haditse
Aja digugu babar sepisan
Ja pisan-pisan ditindakake.



Kacandhet dhisik nggone singiran
Aja kesuwen mundhak gak becik
Tinimbang suwe nggone singiran
Becik ngakehne dzikire dhisik.

singiran kena amung samadya
Aja ngalahne ngaji agama
Nyinau Qur’an kalawan hadits
Ben ora gampang kegodha Iblis

Ana lupute nyuwun ngapura
Dadi wajibe ingkang uninga
Ambenakake barang kang luput
Supaya ora kebacut-bacut

APAKAH KEJAWEN ITU???



KEJAWEN adalah kebudayaan Jawa asli yang merupakan sinkretisme antara kepercayaan kuno dengan ajaran agama yang datang kemudian seperti Hindu, Budha, Islam, dan Kristen. Diantara campuran tersebut yang paling dominan adalah ajaran agama Islam.
Membahas masalah Kejawen tentunya tidak terlepas dengan istilah-istilah Manunggaling Kawulo Gusti, Sedu…lur… Papat Lima Pancer, Sangkan Paraning Dumadi, ngeruwat, tapa brata, dan lain-lain.
* Kejawen adalah sinkretisme yaitu percampuran agama Hindu-Budha- Islam. Meskipun demikian ajaran Kejawen masih mengacu dan berpegang teguh pada ajaran tradisi Jawa asli sehingga masih nampak ciri-cirinya yang khas dan kemandiriannya.
* Agama menurut faham Kejawen adalah Manunggaling Kawula Gusti yaitu bersatunya hamba dengan Tuhan. Oleh sebagian kalangan Islam putih kaum santri, konsep penyatuan manusia dengan Tuhan ini mengarah kepada penyekutuan Tuhan atau prilaku Syirik.
* Perspektif ajaran Kejawen berdimensi tasauf percampuran antara kebudayaan Jawa, Hindu, dan Budha yang kurang menghargai aspek syariat dalam arti yang berkait denngan hukum-hukum hakiki agama Islam.
* Raja adalah pemuka agama. Hal ini nampak dari penggunaan atau pemakaian gelar “Sayidina Panatagama”, “Khalifatullah”, “Ajaran agama ageming aji” ( perhiasan ) raja, karena itu harus disesuaikan dengantradisi Jawa.
* Kitab Mahabarata dan Ramayana merupakan sumber inspirasi ajaran Kejawen yang mengandung ajaran moral dan karakter prilaku tuntunan hidup.
* Tinjauan kajian pikiran Jawa lebih terfokus pada aspek indra batin dan prilaku batin. Strategi pendekatan Kejawen adalah mencari pendekatan kepada Tuhan bahkan selalu ingin menyatu dengan Tuhan ( Manunggaling Kawula Gusti) dan analisanya bersifat batiniah.
 


COPAST DARI :
http://gebyarmanusialangka.blogspot.com/2012/01/pengertian-kejawen.html

Selasa, 31 Januari 2012

Cerita Muawiyah Mencaci Maki Ali Ternyata Palsu

Foto goodreads.com
Peneliti INSISTS dan juga Anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonsia, Fahmi Salim membantah tudingan Rafidhoh bahwa Muawiyah dan bani Ummayah secara umum melaknat Ali bin Tholib. Ia mengatakan tuduhan itu tidak mendasar dan tergolong riwayat palsu.
“Cerita tentang Muawiyah dan bani Umayyah melaknat Sayyidina Ali selama 70 tahun itu riwayat-riwayat palsu semua. Itu hanya ada dalam kitab-kitab sejarah yang ditulis belakangan,” ujarnya kepada Eramuslim.com di kantor MUI Pusat, Jl. Proklamasi, Jakarta Selasa (24/1).
Diantara kitab-kitab tersebut adalah Tarikhul khulafa As Suyuti, Al Kamil fit Tarikh, dan Mu’jamul Buldan. “Asalnya pertama kali disebutkan dalam kitab thabaqat karangan Ibnu Sa’ad, yang ia riwayatkan dari Ali ibn Muhammad al-Madaini dari gurunya Luth ibn Yahya.”
Namun ketika diteliti oleh pakar sejarah dan ahli hadis, Dr. Ali Muhammad Shallabi, kedua orang ini sering meriwayatkan dari Syiah.
“Ibn Saad tidak syiah, cuma dia agak tasahul (terlalu mudah) dalam meriwayatkan cerita-cerita yang berkaitan dengan Sejarah,” tambah Master dari Al Azhar Kairo ini.
Menurut Fahmi, ini yang kemudian diexpose oleh syi’ah, untuk menunjukkan bahwa bukan Syiah saja yang suka mencaci sahabat, tapi juga ahlus sunnah.
“Ini semacam counter attack dari Syi’ah, bahwa Sunni juga mencaci maki Ali bin Abi Tholib, bahwa bukan saja Syiah mencaci sahabat, tapi ahlus Sunnah juga,” tukasnya. (Pz)
ERAMUSLIM > BERITA NASIONAL
http://www.eramuslim.com/berita/nasional/cerita-muawiyah-mencaci-maki-ali-ternyata-palsu.htm
Publikasi: Kamis, 26/01/2012 09:34 WIB
(nahimunkar.com)
***
 الدولة الأموية عوامل الإزدهار وتداعيات الإنهيار - المؤلف : علي محمد محمد الصًّلاَّبيَّ (1 / 198)
… روي أن علياً ـ رضي الله عنه ـ لمّا بلغه أن اثنين من أصحابه يظهران شتم معاوية ولعن أهل الشام أرسل إليهما أن كفّا عمّا يبلغني عنكما، فأتيا فقالا: يا أمير المؤمنين: ألسنا على الحق وهم على الباطل؟ قال: بلى وربّ الكعبة المسدّنة، قالا: فلم تمنعنا من شتمهم ولعنهم؟ قال: كرهت لكم أن تكونوا لعّانين، ولكن قولوا: اللهم أحقن دماءنا ودماءهم، وأصلح ذات بيننا وبينهم، وأبعدهم من ضلالتهم حتى يعرف الحق من جهله ويرعوي عن الغي من لجج به(1)، وأما ما قيل من أن علياً كان يلعن في قنوته معاوية وأصحابه، وأن معاوية إذا قنت لعن عليّاَ وابن عباس والحسن والحسين، فهو غير صحيح، لأنَّ الصحابة ـ رضوان الله عليهم ـ كانوا أكثر حرصاً من غيرهم على التقيد بأوامر الشارع الذي نهى عن سباب المسلم ولعنه(2)، فقد روي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قوله: من لعن مؤمناً فهو كقتله(3)، وقوله صلى الله عليه وسلم: ليس المؤمن بطعان ولا بلعّان(4)، وقوله صلى الله عليه وسلم: لا يكون اللعانون شفعاء ولا شهداء يوم القيامة(5)، كما أن الرواية التي جاء فيها لعن أمير المؤمنين في قنوته لمعاوية وأصحابه ولعن معاوية لأمير المؤمنين وابن عباس والحسن والحسين لا تثبت من ناحية السند حيث فيها أبي مخنف لوط بن يحي الرافضي المحترق الذي لا يوثق في رواياته. كما أن في أصح كتب الشيعة عندهم النهي عن سب الصحابة، فقد أنكر علي من يسب معاوية ومن معه فقال: إني أكره لكم أن تكونوا سبابين ولكنكم لو وصفتم أعمالهم، وذكرتم حالهم، كان أصوب في القول، وأبلغ في العذر، وقلتم مكان سبكم إياهم اللهم أحقن دماءنا ودماءهم وأصلح ذات بيننا
__________
(1) الأخبار الطوال صـ 165 نقلاً عن تحقيق مواقف الصحابة في الفتنة (2/232) .
(2) تحقيق مواقف الصحابة (2/232).
(3) البخاري ، ك الأدب (7/84) .
(4) السلسلة الصحيحة للألباني رقم 320 ، صحيح سنن الترمذي (2/189) رقم 1110 .
(5) مسلم (4/2006) رقم 2598 .
الدولة الأموية عوامل الإزدهار وتداعيات الإنهيار – (1 / 310)
 وكان معاوية رضي الله عنه يحذر بني أمية من الإساءة إلى آل علي بن أبي طالب قائلاً: إن الحرب أولها نجوى، وأوسطها شكوى، وآخرها بلوى: وكان يطلب من خلصاء علي رضي الله عنه، وصفه وسرد روائع
الدولة الأموية عوامل الإزدهار وتداعيات الإنهيار – (1 / 311)
هل عمّم معاوية سب أمير المؤمنين علي على منابر الدولة الأموية ؟
… تذكر كتب التاريخ أن الولاة من بني أمية قبل عمر بن عبد العزيز كانوا يشتمون علي، وهذا الأثر الذي ذكره ابن سعد لا يصح، قال ابن سعد: أخبرنا علي بن محمد، عن لوط بن يحي، قال: كان الولاة من بني أمية قبل عمر بن عبد العزيز يشتمون رجلاً رضي الله عنه، فلما ولي هو ـ عمر بن عبد العزيز ـ أمسك عن ذلك، فقال كثير عزة الخزاعي:
… … … … وليت فلم تشتم علياً ولم تخف
… … … … … … … برياً ولم تتبع مقالة مجرم
… … … … تكلمت بالحق المبين وإنما
… … … … … … … تبين آيات الهدى بالتكلم
… … … … فصدَّقت معروف الذي قلت
… … … … … … بالذي فعلت فأضحى راضياً كل مسلم(2)
__________
(1) الدور السياسي للصفوة صـ172 .
(2) سير أعلام النبلاء (5/147) .
الدولة الأموية عوامل الإزدهار وتداعيات الإنهيار – (1 / 312)
… فهذا الأثر واهٍ، فعلي بن محمد هو المدائني فيه ضعف وشيخه لوط بن يحي، واهٍ بمرة، قال عنه يحي بن معين: ليس بثقة، وقال أبو حاتم: متروك الحديث، وقال الدارقطني: أخباري ضعيف ووصفه في الميزان: أخبار تالف لا يوثق به(1)، وعامة روايته عن الضعفاء والهلكى والمجاهيل(2)، وقد اتهم الشيعة معاوية رضي الله عنه بحمل الناس على سب علي ولعنه فوق منابر المساجد، فهذه الدعوة لا أساس لها من الصحة، والذي يقصم الظهر أن الباحثين قد التقطوا هذه الفرية على هوانها دون إخضاعها للنقد والتحليل، حتى صارت عند المتأخرين من المُسلَّمات التي لا مجال لمناقشتها، ولم يثبت قط في رواية صحيحة، ولا يعول على ما جاء في كتب الدميري، واليعقوبي وأبي الفرج الأصفهاني، علماً بأن التاريخ الصحيح يؤكد خلاف ما ذكره هؤلاء(3)، من احترام وتقدير معاوية لأمير المؤمنين علي وأهل بيته الأطهار، فحاكيه لعن علي على منابر بني أمية لا تتفق مع منطق الحوادث، ولا طبيعة المتخاصمين، فإذا رجعنا إلى الكتب التاريخية المعاصرة لبني أمية، فإننا لا نجد فيها ذكراً لشيء من ذلك أبداً، وإنما نجده في كتب المتأخرين الذين كتبوا تاريخهم في عصر بني العباس بقصد أن يسيؤوا إلى سمعة بني أمية في نظر الجمهور الإسلامي، وقد كتب ذلك المسعودي في مروج الذهب وغيره من كتَّاب الشيعة وقد تسربت تلك الأكذوبة إلى كتب تاريخ أهل السنة ولا يوجد فيها رواية صحيحة صريحة، فهذه دعوة مفتقرة إلى صحة النقل، وسلامة السند من الجرح، والمتن من الاعتراض، ومعلوم وزن هذه الدعوة عند المحققين والباحثين، ومعاوية رضي الله عنه بعيد عن مثل هذه التهم بما ثبت من فضله في الدين، وكان محمود السيرة في الأمة، أثنى عليه بعض الصحابة ومدحه خيار التابعين، وشهدوا له بالدين والعلم، والعدل والحلم،
__________
(1) الميزان (3/419) .
(2) دفاعاً عن السلفية صـ187 .
(3) الحسن ، والحسين ، محمد رضا صـ18 كلام المحقق د. أحمد أبو الشباب .
وسائر خصال الخير(1)
(1) الانتصار للصحب والآل صـ 367 للرحيلي .
 sumber : http://nahimunkar.com

Tumis Tempe Teri


Bahan :
- Teri jenki 100 gram, goreng -
- Tempe 300 gram, potong dadu -
- Cabai merah 3 buah, potong 1 cm -
- Cabai hijau 3 buah, potong 1 cm -
- Kecap manis 3 sdm -
- Garam secukupnya -
- Gul apasir 1/4 sdt -
- Air 100 ml -
- Minyak goreng 2 sdm -

Bumbu :
- Bawang putih 3 siung, iris tipis -
- Bawang merah 5 siung, iris tipis -
- Daun jeruk 2 lembar -
- Daun salam 1 lembar -
- Kengkuas 2 cm, memarkan -

Cara membuat :
1. Panaskan minyak, tumis semua bumbu hingga harum.
2. Masukkan cabai merah dan cabai hijau, aduk hingga layu.
3. Masukkan tempe dan teri, tambahkan garam, gula dan kecap manis, aduk.
4. Tuang air, masak hingga matang.
5. Angkat dan sajikan.

Untuk 2 porsi




 sumber :http://resepmasakanlengkap.blogspot.com/

Minggu, 08 Januari 2012

Negara-Negara Yang Menggunakan Bahasa Jawa

Sebagai warga negara Indonesia kita harus bangga dengan negara ini karena disinilah tumpah darah kita. Banyak faktor yang menyebabkan kita wajib bangga dari negara ini antara lain adalah budaya,sukubahasa dan lainnya. Ternyata negara yang menggunakan bahasa Jawa di dunia ini bukan indonesia saja, ada beberapa negara yang menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa mereka sehari-hari berikut adalah negara-negara yang menggunakan bahasa jawa di dunia
Negara-Negara yang Menggunakan Bahasa Jawa
Republik Suriname
(Surinam)dulu bernama Guyana Belanda atau Guiana Belanda adalah sebuah negara di Amerika Selatan dan merupakan bekas jajahan Belanda.

Negara ini berbatasan dengan Guyana Perancis di timur dan Guyana di barat. Di selatan berbatasan dengan Brasil dan di utara dengan Samudra Atlantik.Di Suriname tinggal sekitar 75.000 orang Jawa dan dibawa ke sana dari Hindia-Belanda antara tahun 1890-1939. Suriname merupakan salah satu anggota Organisasi Konferensi Islam.
Negara-Negara yang Menggunakan Bahasa Jawa

Singapura
Sejumlah orang Jawa didatangkan ke Singapura sejak 1825 [Johari, 1965]. Mereka berasal dari Jawa Tengah, dan mereka dipekerjakan sebagai buruh di perkebunan karet, jalur kereta api dan konstruksi jalan raya. Kampong Jawa, di tepi sungai Rochor, adalah tempat pemukiman pertama orang Jawa di Singapura. Selain Kampong Jawa, Kallang Airport Estate dikenal sebagai tempat pemukiman orang Jawa juga. Di Kallang, mereka hidup berdampingan dengan orang Melayu dan Cina.
Negara-Negara yang Menggunakan Bahasa Jawa
Malaysia
Umumnya, mereka sudah berwarga negara Malaysia. Leluhur mereka datang sekitar tahun 1900 karena tekanan ekonomi. Masyarakat Jawa di Malaysia saat ini termasuk generasi ketiga dan keempat. Walaupun masih menggunakan sebagian adat dan kebudayaan Jawa, mereka sudah dianggap Melayu pribumi yang sah sesuai undang-undang Malaysia.

Yang terbanyak tinggal di Negeri Selangor, terutama di kawasan Tanjung Karang, Sabak Bernam, Kuala Selangor, Kelang, Banting, dan Sepang. Mereka masih mengekalkan beberapa unsur Jawa meski tidak total. Di Johor juga banyak, tapi yang muda-muda sudah lupa warisan leluhurnya.

Bahkan sebagian ada yang merasa malu mengakui berketurunan Jawa. Mereka sudah tidak boleh (bisa, Red.) lagi bertutur bahasa Jawa secara baik dengan unggah-ungguh dan tata krama. Ada yang mengekalkan identitas dirinya dengan mewujudkan Persatuan Anak-anak Jawa. Kegiatan keseniannya kuda kepang dan reog, walaupun tidak sehalus di Jawa.

Belanda
Negara-Negara yang Menggunakan Bahasa Jawa
Saat Belanda menjajah Indonesia belanda mengirim orang jawa sebagai budak ke Belanda. Yang unik dalam kasus bahasa Jawa ini adalah minat orang asing terhadap bahasa atau sastra Jawa. Dan, Belanda sebagai negeri bekas penjajah Jawa ternyata menjadi gudang dari orang atau pakar yang punya minat khusus terhadap keberadaan bahasa Jawa.

Universiteit Leiden, universitas tertua di Belanda yang didirikan 1575 merupakan salah satu gudangnya. Di universitas yang didirikan Pangeran Willem van Oranje, tempat dari sekitar 17 ribu mahasiswa menimba ilmu, kita bisa melihat naskah-naskah kuno berhuruf Jawa atau sastra Jawa kontemporer yang masih terawat.
Negara-Negara yang Menggunakan Bahasa Jawa

Kaledonia Baru
Kaledonia Baru (bahasa Perancis: Nouvelle-Calédonie) adalah sebuah negeri seberang laut milik Perancis terletak di Samudra Pasifik bagian selatan. Juga dinamai Kanaki yang dari nama penduduk asli kepulauan itu. Negara kepulauan ini telah dikuasai Perancis selain Polinesia Perancis. Status ini dikenakan sampai 1998. Namanya berasal dari bahasa Latin Skotlandia. Ibu kotanya ialah Noumea.

Daerah ini dihuni oleh sebagian suku Jawa. Dahulu orang Jawa di Kaledonia Baru menjadi kuli kontrak atau mencari kehidupan lebih baik di negeri asing. Perpindahan orang Jawa di Kaledonia juga sama dengan orang Jawa Suriname, namun kepindahan orang Jawa di Pasifik telah terhenti sejak 1949.

Jumlah penduduk Kaledonia Baru tercatat tanggal 1 September 2006, yaitu: 237.765 jiwa.

Orang Jawa di Kaledonia Baru tetap menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari, namun kini anak-anak mudanya sudah tak bisa berbahasa Jawa, hanya bisa berbahasa Perancis saja.

Indonesia
Negara-Negara yang Menggunakan Bahasa Jawa
udah pasti bahasa jawa juga di gunakan di Indonesia. bahasa yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa adalah bahasa jawa terutama di beberapa bagian Banten terutama kota Serang, kabupaten Serang, kota Cilegon dan kabupaten Tangerang, Jawa Barat khususnya kawasan Pantai utara terbentang dari pesisir utara Karawang, Subang, Indramayu, kota Cirebon dan kabupaten Cirebon, Yogyakarta, Jawa Tengah & Jawa Timur di Indonesia.

Kamis, 05 Januari 2012

SETAHUN LANGIT


KETAWA PANGERAN KETIGA DI SAAT BERUSIA SATU TAHUN PADA TANGGAL 4 JANUARI 2012.