BLOG IKI

BLOG KULAWARGA PUTRA-WAYAH SAKA SAWARGI MBAH MARWAH LAN MBAH BINEM NGARENGAN KIDUL, PLOSOREJO, KEDUNGGALAR, NGAWI, JAWA TIMUR.

Sabtu, 27 Agustus 2011

mengapa Muhammadiyah menggunakan metode hisab


Salah satu saat Muhammadiyah ‘naik’ di media massa adalah ketika menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Pasalnya, Muhammadiyah yang memakai metode hisab terkenal selalu mendahului pemerintah yang memakai metode rukyat dalam menentukan masuknya bulan Qamariah. Hal ini menyebabkan ada kemungkinan 1 Ramadhan dan 1 Syawal versi Muhammadiyah berbeda dengan pemerintah. Dan hal ini pula yang menyebabkan Muhammadiyah banyak menerima kritik, mulai dari tidak patuh pada pemerintah, tidak menjaga ukhuwah Islamiyah, hingga tidak mengikuti Rasullullah Saw yang jelas memakai rukyat al-hilal. Bahkan dari dalam kalangan Muhammadiyah sendiri ada yang belum bisa menerima penggunaan metode hisab ini.
 
Umumnya, mereka yang tidak dapat menerima hisab karena berpegang pada salah satu hadits yaitu “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan bebukalah (idul fitri) karena melihat hilal pula. Jika bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka genapkanlah bilangan bulan Sya’ban tigapuluh hari” (HR Al Bukhari dan Muslim). Hadits tersebut (dan juga contoh Rasulullah Saw) sangat jelas memerintahkan penggunaan rukyat, hal itulah yang mendasari adanya pandangan bahwa metode hisab adalah suatu bid’ah yang tidak punya referensi pada Rasulullah Saw. Lalu, mengapa Muhammadiyah bersikukuh memakai metode hisab? Berikut adalah alasan-alasan yang  diringkaskan dari makalah Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A. yang disampaikan dalam pengajian Ramadhan 1431.H PP Muhammadiyah di Kampus Terpadu UMY.
 
Hisab yang dipakai Muhammadiyah adalah hisab wujud al hilal, yaitu metode menetapkan awal bulan baru yang menegaskan bahwa bulan Qamariah baru dimulai apabila telah terpenuhi tiga parameter: telah terjadi konjungsi atau ijtimak, ijtimak itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan pada saat matahari terbenam bulan berada di atas ufuk. Sedangkan argumen mengapa Muhammadiyah memilih metode hisab, bukan rukyat, adalah sebagai berikut.
 
Pertama, semangat Al Qur’an adalah menggunakan hisab. Hal ini ada dalam ayat “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS 55:5). Ayat ini bukan sekedar menginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.
 
Kedua, jika spirit Qur’an adalah hisab mengapa Rasulullah Saw menggunakan rukyat? Menurut Rasyid Ridha dan Mustafa AzZarqa, perintah melakukan rukyat adalah perintah ber-ilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena ummat zaman Nabi saw adalah ummat yang ummi, tidak kenal baca tulis dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim,“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari”. Dalam kaidah fiqhiyah, hukum berlaku menurut ada atau tidak adanya ilat. Jika ada ilat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak ada yang dapat melakukan hisab, maka berlaku perintah rukyat. Sedangkan jika ilat tidak ada (sudah ada ahli hisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi. Yusuf Al Qaradawi menyebut bahwa rukyat bukan tujuan pada dirinya, melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang oleh Al Qaradawi disebut seorang salafi murni, menegaskan bahwa menggunakan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat di mana tidak ada orang mengetahui hisab.
 
Ketiga, dengan rukyat umat Islam tidak bisa membuat kalender. Rukyat tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada H-1. Dr.Nidhal Guessoum menyebut suatu ironi besar bahwa umat Islam hingga kini tidak mempunyai sistem penanggalan terpadu yang jelas. Padahal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik.
 
Keempat, rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global. Sebaliknya, rukyat memaksa umat Islam berbeda memulai awal bulan Qamariah, termasuk bulan-bulan ibadah. Hal ini karena rukyat pada visibilitas pertama tidak mengcover seluruh muka bumi. Pada hari yang sama ada muka bumi yang dapat merukyat tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat merukyat.  Kawasan bumi di atas lintang utara 60 derajad dan di bawah lintang selatan 60 derajad adalah kawasan tidak normal, di mana tidak dapat melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya atau terlambat dapat melihatnya, yaitu ketika bulan telah besar. Apalagi kawasan lingkaran artik dan lingkaran antartika yang siang pada musim panas melabihi 24jam dan malam pada musim dingin melebihi 24 jam.
 
Kelima, jangkauan rukyat terbatas, dimana hanya bisa diberlakukan ke arah timur sejauh 10 jam. Orang di sebelah timur tidak mungkin menunggu rukyat di kawasan sebelah barat yang jaraknya lebih dari 10 jam. Akibatnya, rukyat fisik tidak dapat menyatukan awal bulan Qamariah di seluruh dunia karena keterbatasan jangkauannya. Memang, ulama zaman tengah menyatakan bahwa apabila terjadi rukyat di suatu tempat maka rukyat itu berlaku untuk seluruh muka bumi. Namun, jelas pandangan ini bertentangan dengan fakta astronomis, di zaman sekarang saat ilmu astronomi telah mengalami kemajuan pesat jelas pendapat semacam ini tidak dapat dipertahankan.
 
Keenam, rukyat menimbulkan masalah pelaksanaan puasa Arafah. Bisa terjadi di Makkah belum terjadi rukyat sementara di kawasan sebelah barat sudah, atau di Makkah sudah rukyat tetapi di kawasan sebelah timur belum. Sehingga bisa terjadi kawasan lain berbeda satu hari dengan Makkah dalam memasuki awal bulan Qamariah. Masalahnya, hal ini dapat menyebabkan kawasan ujung barat bumi tidak dapat melaksanakan puasa Arafah karena wukuf di Arafah jatuh bersamaan dengan hari Idul Adha di ujung barat itu. Kalau kawasan barat itu menunda masuk bulan Zulhijah demi menunggu Makkah padahal hilal sudah terpampang di ufuk mereka, ini akan membuat sistem kalender menjadi kacau balau.
 
Argumen-argumen di atas menunjukkan bahwa rukyat tidak dapat memberikan suatu penandaan waktu yang pasti dan komprehensif. Dan karena itu tidak dapat menata waktu pelaksanaan ibadah umat Islam secara selaras diseluruh dunia. Itulah mengapa dalam upaya melakukan pengorganisasian system waktu Islam di dunia internasional sekarang muncul seruan agar kita menggunakan hisab dan tidak lagi menggunakan rukyat. Temu pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam (Ijtima’ al Khubara’ as Sani li Dirasat Wad at Taqwimal Islami) tahun 2008 di Maroko dalam kesimpulan dan rekomendasi (at Taqrir al Khittami wa at Tausyiyah) menyebutkan: “Masalah penggunaan hisab: para peserta telah menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan Qamariahdi kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan Qamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat”.
(Disalin sesuai dengan aslinya oleh PD IPM Kabupaten Magelang dari: http://immugm.web.id ).

Senin, 22 Agustus 2011

PADHANYANGAN DAN KOMENTAR MANTAN KYAI NU

DHANYANG TANAH JAWA

 SINOM

1. Apuranên sun angetang Lêlêmbut ing Nusa Jawi, Kang rumêksa ing nagara, Para Ratuning dhêdhêmit, Agung sawabe ugi, Yen eling sadayanipun, Pedah kinarya tulak, Ginawe tunggu wong sakit, Kayu aeng lemah sangar dadi tawa.
2. Kang rumiyin ing bang wetan, Durganêluh Majapahit, Lawan Raja Bahurêksa, Iku Ratuning dhêdhêmit, Blambangan kang winarni, Awasta Sang Balabatu, Aran Buta Locaya, Kang rumêksa ing Kadhiri, Prabhu Yêksa kang rumêksa Giripura.

3. Sidagori ing Pacitan, Kaduwang si Klênthingmungil, Endrayaksa ing Magêtan, Jênggala si Tunjungputih, Prangmuka Surabanggi, Pananggulan Abur-Abur, Sapujagad ing Jipang, Madiyun si Kalasêkti, Pan si Koreb lêlêmbut ing Panaraga.

4. Singabarong Jagaraga, Majênang Trênggilingwêsi, Macan Guguh Garobogan, Kalajangga Singasari, Sarengat Barukuping, Balitar si Kalakathung, Butakurda ing Rawa, Kalangbret si Sêkar Gambir, Carub Awor kang rumêksa ing Lamongan.

5. Gurnita ing Puspalaya, Si Lêmpur ing Pilangputih, Si Lancuk aneng Balora, Pagambiran Kalasêkti, Kêdhunggêne Ni Jênggi, Ki Bajangklewer puniku, Nglasêm Kalabrahala, Sidayu Si Cicingmurti, Ki Jalangkah ing Candhi kahyanganira.

6. Sêmarang Baratkatiga, Pakalongan Guntur Gêni, Pêcalang Si Sambangyuda, Sarwaka ing Sukawati, Ing Padhas Nyai Ragil, Jayalêlana ing Suruh, Buta Trênggiling Têgal, Ing Têgal si Guntinggêni, Kaliwungu Gutuk Api kang rumêksa.

7. Magêlang Ki Samahita, Dhadhungawuk Gêsêng nênggih, Buta Salewah ing Pajang, Manda-Manda ing Matawis, Paleret Rajêgwêsi, Kutha Gêdhe Nyai Panggung, Pragota Kartasura, Cirêbon Setan Koberi, Juru Taman ingkang aneng Têgallayang.

8. Gênawati ing Seluman, Ki Kêmandhang Wringinputih, Si Karêtêk Pajajaran, Sapuregel ing Batawi, Ki Drusul ing Banawi, Ingkang aneng Gunung Agung, Ki Tlêkah Ngawang-Awang, Ki Tlapa Ardi Mêrapi, Ni Taruki ingkang ana ing Tunjungbang.

9. Setan Karêtêg ing Kêndhal, Pamasuhan Sapuangin, Kresnapada ing Rangkudan, Ni Pandhansari ing Srisig, Kang aneng Wanapêthi, Palangkarsa wastanipun, Ki Candhung ing Sawahan, Plabuhan Ki Dudukwarih, Buta Tukang kanganeng ing Palayangan.

10. Ni Rara Aris ing Bawang, Ing Tidhar Ki Kalasêkti, Ki Padurêksa Sundara, Ki Jalela Ardi Sumbing, Ngungrungan Kêsbumurti, Ki Krama Ardi Rêbabu, Nirbangsan Ardi Kombang, Prabu Jaka Ardi Kêlir, Ajidipa Gunung Kêndhêng kang den rêksa.

11. Ing Pasisir Butakala, Cilacap Si Kalasêkti, Kalanadhah ing Banyumas, Sigaluh aran si Prênthil, Banjaran Ki Wêwasi, Kyai Korog ing Lowanu, Gunung Duk Gêniyara, Nyai Burêng Parangtritis, Drêmbamoha ingkang aneng Prabalingga.

12. Ki Kêrta Sangkalbolongan, Kêdhungandhong Winongsari, Ing Jênu Ki Karungkala, Ing Pêngging Banjaransari, Ing Kêdhu kang nênggani, Anama Ki Candralatu, Gunung Kêndhalisada, Kêthek Putih kang nênggani, Buta Glêmboh ing Ngayah Kahyanganira.

13. Ni Rara Denok ing Dêmak, Ing Tuban Nyai Bathithing, Ing Kuwu Ki Juwalpayal, Si Jungkit ing Guyang nênggih, Trênggalek Ni Daruni, Tunjungseta Cêmarasewu, Kalawadhung Kênthongan, Jêpara Ki Wanengtaji, Bagus Anom ing Kudus kahyanganira.

14. Magiri Ki Manglarmonga, Ing Gadhing Ki Puspasari, Kêtanggung Ki Klanthungwêlah, Brengkelen si Banaspati, Ni Kopek ing Manoreh, Ing Têngah si Sabuk Alu, Nglandhak Ki Mayangkara, Si Gori Kêdhungcuwiri, Baruklinthing ingkang ana ing Bahrawa.

15. Sunan Lawu Ngargapura, Ing Bayat si Puspakati, Cucuk Dandang ing Kartikan, Kulawarga Tasikwêdhi, Kali Opak winarni, Sanggabuwana ranipun, Si Kecek Pajarakan, Cingcinggoling Kaliwêning, Ing Dahrama Ula Wêlang kang rumêksa.

16. Kang aneng Kayulandeyan, Ki Daruna Ni Daruni, Bagus Karang aneng Roban, Sangujaya Udanriris, Sidarengga Dalêpih, Si Gadhung Kêdhunggarunggung, Kang aneng Bojanêgara, Citranaya kang nênggani, Gênapura kang aneng ing Majapura.

17. Ki Logenjang ing Juwana, Ing Rêmbang si Bajulbali, Ki Lender ing Wirasaba, Madura Ki Buta Gigris, Kang ngrêksa ing Matêsih, Jaranpanoleh ranipun, Ki Londir Pacangakan, Si Landhêp Jatisan, Ondar Andir ingkang aneng Jatimalang.

18. Arya Tiron ing Lodaya, Sarpa Bangsa ing Pêning, Pêrang Tandang ing Kasanga, Ing Crewek Ki Mandamandi, Setan Telaga Pasir, Ingkang Aran Ki Jalinglung, Kalanadhah ing Tuntang, Bancuri Kalabancuri, Kang rumêksa sukune Ardi Baita.

19. Ragadungik Randhulawang, Ing Sêndhang Rêtna Pêngasih, Buta Kapa ing Prambanan, Mbok Sampurna Ardi Wilis, Raden Galinggangjati, Kang rumêksa Gajahmungkur, Si Gêndruk ing Talpêgat, Ngêmbel Raden Panjisari, Pagêrwaja kang aran Udakusuma.

20. Ki Pênthul ing Pakacangan, Cangakan si Dodotkawit, Kalangkung ing sêktinira, Titihane kuda putih, Cakra payungneki, Lar waja kêkêmulipun, Pan sami rinajegan, Rêspati rajege wêsi, Camêthine pat-upate ula lanang.

21. Sinabêtakên mangetan, Ana lara têka bali, Tinulak bali mangetan, Mangidul panyabêtneki, Lara prapta ambalik, Tinulak bali mangidul, Ngulon panyabêtira, Ana lara têka bali, Pan tinulak mangulon bali kang lara.

22. Mangalor panyabêtira, Ana lara têka bali, Mangalor bali tinulak, Anulya nyabêt manginggil, Lara prapta ambalik, Tinulak bali mandhuwur, Nulya nyabêt mangandhap, Ana lara têka bali, Pan tinulak larane bali mangandhap.

23. Dhêmit kang aneng Jêpara, Lan dhêmit kang aneng Pathi, Kalangkung kasêktenira, Juweya wastaneki, Gus Rema Tambaksuli, Kudapêksa ing Dêlanggung, Ki Klunthung Ringinpêthak, Ni Gambir ing Glagahwangi, Si Kacubung Kadilangu kang den rêksa.

24. Ni Dulêg ing Pamancingan, Guwa Langse Nini Suntring, Kang rumêksa Parang Wedang, Raden Arya Jayengwêsthi, Kabeh urut pasisir, Kulawarga Nyai Kidul, Sampun pêpak sadaya, Para Ratuning Dhêdhêmit, Nusa Jawa paugêran kang rumêksa.
Pemutsalah satu member blog mantan kyai NU

 Komentarku  ( Mahrus ali )

Keberadaan dhanyang itu sumbernya dari ilmu kejawen , ilmu leluhur yang budha – bukan Islam ala ahli hadis , mungkin juga masih di percaya oleh kalangan muslim ala ahli bi`d`ah . Ia  syirik murni  bukan tauhid , dan menghapus amal perbuatan yang baik tinggal kejelekan saja lalu di tambah dosa besar yang takkan di ampun oleh Allah dan di senangi oleh setan – setan manusia dan jin . Ia mirip  dengan ayat :
أَمْ لَهُمْ ءَالِهَةٌ تَمْنَعُهُمْ مِنْ دُونِنَا لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَ أَنْفُسِهِمْ وَلَا هُمْ مِنَّا يُصْحَبُونَ(43)بَلْ مَتَّعْنَا هَؤُلَاءِ وَءَابَاءَهُمْ حَتَّى طَالَ عَلَيْهِمُ الْعُمُرُ أَفَلَا يَرَوْنَ أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا أَفَهُمُ الْغَالِبُونَ
Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka dilindungi dari (azab) Kami itu?Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka. Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri (orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya. Maka apakah mereka yang menang?[1]
Ada ayat lain lagi sbb :
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ(40)قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ
Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: "Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?".Malaikat-malaikat itu menjawab: "Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka: bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu".[2]
 Beriman kepada jin/ dhanyang, perintah jin/ dhanyang di jalankan sekalipun bertentangan dengan ajaran Allah , lalu perintah Allah  tidak di jalankan . Ini perbuatan yang sangat di benci oleh Allah dan di senangi Iblis . .Kebanyakan orang yang melakukan sedemikian ini para normal atau dukun yang pengobatannya ngejos, bukan kyai yang tidak bisa mengobati penyakit . Mereka  banyak tamunya bukan pengikut pengajiannya . Dan  perbuatan mereka   banyak yang melanggar syariat  cocok dengan ajaran setannya .  Ada hadis sbb :
عَنْ عَبْدِاللَّهِ ( إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ ) قَالَ كَانَ نَاسٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعْبُدُونَ نَاسًا مِنَ الْجِنِّ فَأَسْلَمَ الْجِنُّ وَتَمَسَّكَ هَؤُلَاءِ بِدِينِهِمْ
Dari Abdullah  berkata : Orang – orang menyembah jin lalu jinnya masuk Islam  dan mereka masih kufur .
Itulah maksud ayat :
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.[3]
Beberapa orang menyembah jin ,lalu jinnya masuk Islam  dan mereka masih tetap memegang agamanya  . [4]


[1] Anbiya` 43-44
[2] Saba` 40 –41
[3]  Al Isra` 57
[4] HR Bukhori 4714

Jumat, 12 Agustus 2011

DO’A DAN DZIKIR KETIKA ADZAN DAN SESUDAHNYA

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ r قَالَ: ((إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ ))
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudry t, sesungguhnya Rasulullah r pernah bersabda: “Apabila kamu mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah t, bahwa Rasulullah r bersabda: “Siapa yang setelah  mendengar adzan mengucapkan:

(( اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ ))

“Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan yang sempurna ini, dan shalat yang didirikannya, berilah Muhammad kedudukan yang tinggi dan kemuliaan, serta bangkitkanlah dia di tempat yang terpuji, yang telah Engkau janjikan”.
Maka baginya syafa’atku pada hari kiamat”.                (HR. Bukhari).

Dalam riwayat Baihaqi pada akhir do’a tersebut ditambahkan:

(( إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ  ))
“Sesungguhnya Engkau tidak pernah mengingkari janji”.

Sebenarnya tambahan ini adalah lemah, karena tambahan ini riwayatnya syadz (ganjil) lihat; Irawa’ul Ghalil:   1 : 260-261.
Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash t dari Rasulullah r, bahwasanya beliau bersabda: “Siapa yang setelah adzan mengucapkan:

(( أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً وَبِالإِسْلاَمِ دِيْنًا))
“Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya. Aku rela menjadikan Allah sebagai Tuhan, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agama”.
Maka Allah U akan mengampuni segala dosanya”.      (HR. Muslim).

Umar bin Khattab t pernah berkata; bahwa Rasulullah r pernah bersabda:
(( إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، قَالَ: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، قَالَ: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. ثُمَّ قَالَ: اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، قَالَ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ))
“Apabila muadzin menyerukan: “Allahu Akbar, Allahu Akbar”, maka seseorang dari kamu mengucapkan: “Allahu Akbar, Allahu Akbar“. Ketika muadzin menyerukan: “Asyhadu Alla ilaaha Illallah“, diapun mengucapkan: “Asyhadu Alla ilaaha Illallah“. Ketika muadzin menyerukan: “Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah”, maka diapun mengucapkan: “Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah“. Ketika muadzin menyerukan: “Hayya ‘alash Shalaah“, maka dia mengucapkan: “Laa Haula wala quwwata Illaa Billah”. Ketika muadzin menyerukan: “Hayya ‘alal Falaah”, maka dia mengucapkan: “Laa haula wala quwwata Illaa billah“. Tatkala muadzin menyerukan: “Allahu Akbar, Allahu Akbar“, diapun mengucapkan: “Allahu Akbar, Allahu Akbar“. Tatkala muadzin menyerukan: “Laa Ilaaha Illallah“, maka diapun mengucapkan: “La ilaaha illallah“.
Dan jika hal ini dia ucapkan dari lubuk hatinya, maka orang itu akan masuk sorga”. (HR. Muslim).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al ’Ash y bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah r bersabda:
(( إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ، ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا. ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ فَإِنَّهَا مَنْـزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِيْ إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأَرْجُوْ أَنْ أَكُوْنَ أَنَا هُوَ, فَمَنْ سَأَلَ اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ ))
“Apabila kamu mendengar muadzin (menyerukan adzan), maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin, kemudian ucapkanlah shalawat atasku, karena sesungguhnya siapa yang mengucapkan shalawat atasku sekali, maka Allah U akan memberinya sepuluh rahmat. Kemudian mohonlah kepada Allah untukku Al Wasilah sesungguhnya Al Wasilah itu suatu tempat di sorga yang tidak diperuntukkan kecuali bagi seorang hamba dari hamba-hamba-Nya. Aku berharap agar semoga akulah hamba itu. Siapa yang mintakan untukku Al Wasilah, maka dia akan mendapatkan syafa’atku”. (HR. Muslim).

Sabtu, 30 Juli 2011

DHANDHANGGULA

1. Dhedhet tidhem prabawaning ratri, sasadara wus manjer kawuryan, tan kuciwa memanise, menggep Sri Nateng dalu, sinewaka sanggyaning dasih, aglar neng cakrawala, winulat ngelangut, prandene kabeh kebekan, saking kehing taranggana kang sumiwi, warata tanpa sela.

2. Kinalangan kekuwung ngawengi, lir wewengkon bale Mandhakiya, pasewakaning Pamase, jroning kalang kadulu, kang sumewa pareng neng ngarsi, mung punggawa sajuga, Harya Panjersurup, pramukyaning taranggana, kang sawega rumeksa pringganing ratri, ngayomi hayuningrat.


3. Tan petungan panjrahing wadya lit, arahane awor mawurahan, ngapit narmada prenahe, jro petenging Serayu, angragancang Sang Bimasakti, nyuwak tutuking naga, kang sikareng laku, yeku mangka pralampita, mrih mengeta kang mantep tetep ing budi, widada kang sinedya.


4. Nekawarna pangkating wadya ji, nora worsuh tataning sewaka, gumolong gegelengane, ..................... , pandomaning para mong tani,. gelaring panangkilan, rinakit waluku, wuluh wuku lan kukusan, gubug penceng malencat wor lanjar ngirim, mangro lakuning mangsa.


5. Kang sumewa luhuring udadi, pan pinindha dhapuring giyota, pra nangkodha pandomane, de kang dadya pituduh, pamardine kang ulah kardi, sinamar neng busana, kasarireng Prabu, jroning praba marakata, sinung tandha pindha widadari ngantih, neng soring wringin sungsang.


6. Kang saweneh punggawa piniji, asung penget pangreksaning raga, ing masa roga praptane, yeku Harya Kumukus, manjer dwaja neng pancaniti, tangeh yen winursita, satataning dalu, dungkap luwaring sewaka, Jaka Belek merem melek melik-melik, sasmita minta nendra.


7. Samantara wus banguning rawi, Hyang Purnama meh manjing ngancala, gumiwang surem sunare, sawung pareng kaluruk, kapiyarsa melung-melungi, mring kang kasuwen nendra, ywa kongsi kadarung, mengeta mring pangarcana, angluhurna gunge kawasaning Hyang Widdhi, kang nitah saniskara.


8. Dyan umimba punggawaning ratri, riyap-riyep ri Sang Panjer Rina, lir pasrah pangawasane, denya rumekseng dalu, pangasoning sagung dumadi, wus sedheng pinardiya, ngayati panggayuh, iyeging panambut karya, datan liyan Hyang Surya kang mirowangi, tuduh sidining sedya.


9. Tanggap mulat Hyang Harga naketi, dumipeng rat ambabar prabawa, sumirat-sirat sorote, mega sinungging wungu, graning arga pinulas wilis, samantara kawuryan, Hyang Surya wus mungup, ngancik pucaking aldaka, larut mirut tedhuhing dalu kalindhih, sumeblak tanpa sesa.


10. Anglur selur lakune wong tani, sareng mangkat maring papasaran, pating krengkot pikulane, weneh sikep waluku, maring tegal sawahe sami, si Gundhul nethek kandhang, kebone pinecut, ngucul sarwi tinumpakan, ngenak-enak neng gigir marep neng wuri, sembari ura-ura.


11. Melang-melung lelagon ginurit, alon bae “hir hir kiya kiya !”, uler kambang satitahe, nora napa kesusu, yen narima karsaning pasthi, lakune wis jinangka, jangkahe den ukur, kesusu amburu apa, yen wong murka anggake kudu ndheweki, wus turah durung nrima.


12. Nora menget adile Hyang Widdhi, denya mandum jatining pangrasa, tan pisan baukapine, sanggyaning kang tumuwuh, binageyan legi lan pait, nadyan silih darbeya, wisma lir swargagung, kinunci kancing kencana, nora wurung susahe nlesep nusupi, tumameng mangsakala.


13. Yen pinuntu pantoging gyat yekti, nora suka murka ngangsa-angsa, anjangka kang kae-kae, karana kang tinemu, nora liya suka lan sedhih, demange nora beda, lan si Gundhulpacul, mene seneng mene susah, yen narima sudahe mirut sumingkir, rampung tanpa prakara.


14. Ayem guyem kang kaya wak mami, repet-repet wus berag neng beran, ngadhang segering srengenge, molah nglalatih balung, ngulur otot ngingirih getih, lir kukila neng tawang, mina neng jro kedhung, sajege sun dadi bocah, durung wikan rasaning badan nglelentrih, mung bingar tyas pirena.


15. Temah tuwuh segere nartani, lengeningsung kiyale kalintang, mathekel katon kucinge, keneng sawabing ebun, kang sinebar ing maruta ris, woring sorot tembeyan, doyananing banyu, Hyang Surya tan kadang konang, denya mandum prabane sinami sami, tan mawang milih janma.


16. Lamun ngelak ingong darbe warih, kang sumreweh nuting padhas gempal, wening tur sumyah rasane, sakehing kang sinebut, omben-omben ingong kilani, mangsa silih nyundhula, lan segering banyu, mengko nadhah lan janganan, sambel rawit lalaban timun lan metir, segane beras anyar.


17. Setham-sethom segere kapati, yen wus enak weh kuwating raga, apa maneh jalukane, sore ngong mapan turu, aneng lincak lambaran widhig, mrenah wurining damar, sumamar neng ngundhuk, tentrem rasaning tyas ingwang, mung kumandel kinemulan ing Hyang Widdhi, bleg-seg tanpa mirasa. 


Pethikan saka : Burat Sari II, S Prawiradihardja.

Minggu, 10 Juli 2011

DHANYANG TANAH JAWA

 SINOM

1. Apuranên sun angetang Lêlêmbut ing Nusa Jawi, Kang rumêksa ing nagara, Para Ratuning dhêdhêmit, Agung sawabe ugi, Yen eling sadayanipun, Pedah kinarya tulak, Ginawe tunggu wong sakit, Kayu aeng lemah sangar dadi tawa.

2. Kang rumiyin ing bang wetan, Durganêluh Majapahit, Lawan Raja Bahurêksa, Iku Ratuning dhêdhêmit, Blambangan kang winarni, Awasta Sang Balabatu, Aran Buta Locaya, Kang rumêksa ing Kadhiri, Prabhu Yêksa kang rumêksa Giripura.

3. Sidagori ing Pacitan, Kaduwang si Klênthingmungil, Endrayaksa ing Magêtan, Jênggala si Tunjungputih, Prangmuka Surabanggi, Pananggulan Abur-Abur, Sapujagad ing Jipang, Madiyun si Kalasêkti, Pan si Koreb lêlêmbut ing Panaraga.

4. Singabarong Jagaraga, Majênang Trênggilingwêsi, Macan Guguh Garobogan, Kalajangga Singasari, Sarengat Barukuping, Balitar si Kalakathung, Butakurda ing Rawa, Kalangbret si Sêkar Gambir, Carub Awor kang rumêksa ing Lamongan.

5. Gurnita ing Puspalaya, Si Lêmpur ing Pilangputih, Si Lancuk aneng Balora, Pagambiran Kalasêkti, Kêdhunggêne Ni Jênggi, Ki Bajangklewer puniku, Nglasêm Kalabrahala, Sidayu Si Cicingmurti, Ki Jalangkah ing Candhi kahyanganira.

6. Sêmarang Baratkatiga, Pakalongan Guntur Gêni, Pêcalang Si Sambangyuda, Sarwaka ing Sukawati, Ing Padhas Nyai Ragil, Jayalêlana ing Suruh, Buta Trênggiling Têgal, Ing Têgal si Guntinggêni, Kaliwungu Gutuk Api kang rumêksa.

7. Magêlang Ki Samahita, Dhadhungawuk Gêsêng nênggih, Buta Salewah ing Pajang, Manda-Manda ing Matawis, Paleret Rajêgwêsi, Kutha Gêdhe Nyai Panggung, Pragota Kartasura, Cirêbon Setan Koberi, Juru Taman ingkang aneng Têgallayang.

8. Gênawati ing Seluman, Ki Kêmandhang Wringinputih, Si Karêtêk Pajajaran, Sapuregel ing Batawi, Ki Drusul ing Banawi, Ingkang aneng Gunung Agung, Ki Tlêkah Ngawang-Awang, Ki Tlapa Ardi Mêrapi, Ni Taruki ingkang ana ing Tunjungbang.

9. Setan Karêtêg ing Kêndhal, Pamasuhan Sapuangin, Kresnapada ing Rangkudan, Ni Pandhansari ing Srisig, Kang aneng Wanapêthi, Palangkarsa wastanipun, Ki Candhung ing Sawahan, Plabuhan Ki Dudukwarih, Buta Tukang kanganeng ing Palayangan.

10. Ni Rara Aris ing Bawang, Ing Tidhar Ki Kalasêkti, Ki Padurêksa Sundara, Ki Jalela Ardi Sumbing, Ngungrungan Kêsbumurti, Ki Krama Ardi Rêbabu, Nirbangsan Ardi Kombang, Prabu Jaka Ardi Kêlir, Ajidipa Gunung Kêndhêng kang den rêksa.

11. Ing Pasisir Butakala, Cilacap Si Kalasêkti, Kalanadhah ing Banyumas, Sigaluh aran si Prênthil, Banjaran Ki Wêwasi, Kyai Korog ing Lowanu, Gunung Duk Gêniyara, Nyai Burêng Parangtritis, Drêmbamoha ingkang aneng Prabalingga.

12. Ki Kêrta Sangkalbolongan, Kêdhungandhong Winongsari, Ing Jênu Ki Karungkala, Ing Pêngging Banjaransari, Ing Kêdhu kang nênggani, Anama Ki Candralatu, Gunung Kêndhalisada, Kêthek Putih kang nênggani, Buta Glêmboh ing Ngayah Kahyanganira.

13. Ni Rara Denok ing Dêmak, Ing Tuban Nyai Bathithing, Ing Kuwu Ki Juwalpayal, Si Jungkit ing Guyang nênggih, Trênggalek Ni Daruni, Tunjungseta Cêmarasewu, Kalawadhung Kênthongan, Jêpara Ki Wanengtaji, Bagus Anom ing Kudus kahyanganira.

14. Magiri Ki Manglarmonga, Ing Gadhing Ki Puspasari, Kêtanggung Ki Klanthungwêlah, Brengkelen si Banaspati, Ni Kopek ing Manoreh, Ing Têngah si Sabuk Alu, Nglandhak Ki Mayangkara, Si Gori Kêdhungcuwiri, Baruklinthing ingkang ana ing Bahrawa.

15. Sunan Lawu Ngargapura, Ing Bayat si Puspakati, Cucuk Dandang ing Kartikan, Kulawarga Tasikwêdhi, Kali Opak winarni, Sanggabuwana ranipun, Si Kecek Pajarakan, Cingcinggoling Kaliwêning, Ing Dahrama Ula Wêlang kang rumêksa.

16. Kang aneng Kayulandeyan, Ki Daruna Ni Daruni, Bagus Karang aneng Roban, Sangujaya Udanriris, Sidarengga Dalêpih, Si Gadhung Kêdhunggarunggung, Kang aneng Bojanêgara, Citranaya kang nênggani, Gênapura kang aneng ing Majapura.

17. Ki Logenjang ing Juwana, Ing Rêmbang si Bajulbali, Ki Lender ing Wirasaba, Madura Ki Buta Gigris, Kang ngrêksa ing Matêsih, Jaranpanoleh ranipun, Ki Londir Pacangakan, Si Landhêp Jatisan, Ondar Andir ingkang aneng Jatimalang.

18. Arya Tiron ing Lodaya, Sarpa Bangsa ing Pêning, Pêrang Tandang ing Kasanga, Ing Crewek Ki Mandamandi, Setan Telaga Pasir, Ingkang Aran Ki Jalinglung, Kalanadhah ing Tuntang, Bancuri Kalabancuri, Kang rumêksa sukune Ardi Baita.

19. Ragadungik Randhulawang, Ing Sêndhang Rêtna Pêngasih, Buta Kapa ing Prambanan, Mbok Sampurna Ardi Wilis, Raden Galinggangjati, Kang rumêksa Gajahmungkur, Si Gêndruk ing Talpêgat, Ngêmbel Raden Panjisari, Pagêrwaja kang aran Udakusuma.

20. Ki Pênthul ing Pakacangan, Cangakan si Dodotkawit, Kalangkung ing sêktinira, Titihane kuda putih, Cakra payungneki, Lar waja kêkêmulipun, Pan sami rinajegan, Rêspati rajege wêsi, Camêthine pat-upate ula lanang.

21. Sinabêtakên mangetan, Ana lara têka bali, Tinulak bali mangetan, Mangidul panyabêtneki, Lara prapta ambalik, Tinulak bali mangidul, Ngulon panyabêtira, Ana lara têka bali, Pan tinulak mangulon bali kang lara.

22. Mangalor panyabêtira, Ana lara têka bali, Mangalor bali tinulak, Anulya nyabêt manginggil, Lara prapta ambalik, Tinulak bali mandhuwur, Nulya nyabêt mangandhap, Ana lara têka bali, Pan tinulak larane bali mangandhap.

23. Dhêmit kang aneng Jêpara, Lan dhêmit kang aneng Pathi, Kalangkung kasêktenira, Juweya wastaneki, Gus Rema Tambaksuli, Kudapêksa ing Dêlanggung, Ki Klunthung Ringinpêthak, Ni Gambir ing Glagahwangi, Si Kacubung Kadilangu kang den rêksa.

24. Ni Dulêg ing Pamancingan, Guwa Langse Nini Suntring, Kang rumêksa Parang Wedang, Raden Arya Jayengwêsthi, Kabeh urut pasisir, Kulawarga Nyai Kidul, Sampun pêpak sadaya, Para Ratuning Dhêdhêmit, Nusa Jawa paugêran kang rumêksa.

Kamis, 26 Mei 2011

Piwulangipun Suwargi R.NG. Rangga Warsito (dhumateng putra nalika badhe seda)



Rarasing tyas sinawung hartati, denirarsa amedhar carita, ngayawara puwarane, berawaning madhangkung, hinukarsa ri Sukra Kasih, rong puluh wulan Rajab gati kanemipun, warsa Jimakir Sancaya, sinengkalan sembah muluk ngesti aji, tata wedharing kata.

Heh ta risang dwi atmaja mami, parsudinen dadining parasdya pinrih haywa kongsi kecer, cangkok lan isinipun, yen kecera salah sawiji sayekti dadi tuna, tuwas anggeguru, durung weruh pamorira, wohing semu pasemon gaibpibng widhi, datan kena madaya.

Supadine dadya tyas panggiling, lukitane ingkang sastra cetha, ing mangka darsane, wong berbudi pan cukup, anyakupi pati saurip, uripe aneng donya, prapteng janjinipun, sayekti datan kewran, denira mrih prasti pulasta pinusthi, esthine kene kena.
 
Sakamantyan denira marsudi, widadane ingkang sami kara, karana tan kena mleset surasaning kang ngelmu nora kena medhayeng janji, janji mung sepisan, purihen den kumpul, Gusti kalawan kawula, supadine dinadak bisa umanjing satu mungging rimbagan.
 
Yen rinasa surasaning manis, temah dadya hardaning wardaya, saking dhahat denya rame, marma den bisa gilut, giluting amung patitis, titikane den kena nemu yan katemu, nemu sesotya kancana ujwalana sarpakanaka delahi, sumorot sorotira.
 
Anyoroti padhanging Hyangrawi, isining rat kawratan sadaya, yekti tan ana petenge nanging ta arang nggayuh, gayuhane tepa palupi, pilih-pilih kang nyandhak, sarkaraning madu dedunung netan ning nang nora adoh nora perek seneng ugi gepokane tur cedhak.
 
Cepakane pepak amepeki, parandene teka nora gampang pambudine kadhang cewet, wela graitanipun, saking kalab-kalaban dening harda-hardaning nala, sruning tyas kayungyun, kayun marang sih katresnan, iku mangka bancana dirgameng pati, patine tanpa sedya.

Saya harda-hardaning pambudi, budi daya madya lan utama, utamaning rat pasemone, marma den bisa besut besutane kang tirta wening, wening wenes kalintang, tanpa pama tuhu, satuhunung kasunyatan-kasunyatan kang sami dipun lampahi, wiwitan lan wekasan. 
 
Wekasane mung ngantepi pati, parandene meksa taksih awrat kalindih saking panggawe kira-kiraning kalbu, sapa baya bisa amesti jer pan durung ana wong milalu lampus, konus kongas saking atma, nadyan silih sampun wredha kaki-kaki maksih sungkan kewala.
 

Yen tuhuwa awiti anitis, pan tumitah dumadi manungsa sinung harja bungah dene sapira kadaripun, aneng donya pan ora lami, lamine nora lama umur sewu tahun, lamun ora ngawruhana, angrawuhi marang jamaning kapiran sayekti dadi tuna.
 

Tuna ndungkap kaolah pikir, pan kapiran jamaning ngakerat sakarate yekti suwe-suwe ngulari perlu-perlu mati pijer mandelik, kelike ora ana, anane mung kuwur, baliwur tan wruh ing marga, marga lena kelenan datan pinikir, mungkir tinggal agama.

Agamane ingkang luwih suci, anuceni dat kalawan sipat-sipat murah salamine marma den bisa kulup pipikulan aywa katembing, titimbangane ana, iku paminipun nimpuna sandhang lan pangan ora kena tinilar sawiji, wajibpe bebarengan.

Kena uga kalewan siniring, maring wong kang angupaya pangan, saben dina nyambut gawe, amrih kencenging wadhuk, wadhuk iku wadhahing urip uripe saking sedya, sedyane mrih cukup nyukupi jaba jro amba, babarane bineber ngeberi budi, budaya kang sanyata.

Kanyataan ing urip puniki, tan liyan sing hardaning baksana, tiba saenggon-enggon pan tibeng nora saru sarupane ruruba yekti, yektine aywa sulab mring sulapanipun, budine den kongsi kena, nanging aywa sira budi saben hari aywa pegat.

 
 
 
MEGATRUH
1.
Sanitiasa denira paring wuwuruk, Marsepuh sang maha yekti, Tinumpa tumpa tinumpuk, Pinatha pantha pinasti, Saniskaraning pangawaroh.
2.
Pan liningga salingga sawanda wuyud, Wuyude pan dadi siji, Mijen jagad sawegung, Saking kodrating Hyang Widhi, Kasamadan dating Manon.
3.
Amanoni pamulune kadi duwung, Kukuwunge mingis-mingis piningit tan kena konus, Yon konus ngenesken ati, Amulat gebyaring pamor.
4.
Dasar pamor pamore handamar murub, Bener ingkang kekes wing wrin rumangsa kasoran ampuh, pupuhe tuhu patitis, Titi datan atumpang so.
5.
Yen tinantang tantingane tuhu kukuh, Kukuhe nora ngencengi, Kenceng kinarya pangayun, Tarincingaken neng wuri, Cacakane nora moncol.
6.
Cakep cukup nyukupi yen oleh rembug, Rembuge tan katon gitik titikane urun-urun, Nguruni dadine ngelmi, Kaya sukane ponang wong.
7.
Wuwuh-wuwuh amuwuhi kawruhipun, Pantese wong cipta yekti tan amprih karya panggunggung gunggunge gunggungan dadi, Tinitah pandita kaot.
8.
Kaot wilet maneh oleh tindak tanduk dudugane tan ketembing tumanbirang kaduk purun, Purune nora nyamahi, Marang ngelmu kang wus manggon.
9.
Pamanggone tapa brata pitung wektu, Dene tatapa kang siji apane jasad puniku haywa darbe, Esakserik, Narima terusing batos.
10.
Kaping kalih pan ing tapa-tapa tuhu, Lahiya tapaning buda among tapa temenipun, Nyepen ninis thalan nisthip, Anyirnakna ati goroh.
11.
Kaping tiga tapaning kang hawa nepsu, Nglakonana sabar ngalim-ngapura salaminipun, Nadyan sira pinisakit, Tawa kupo mring Hyang Manon.
12.
Ingkang kocap tapa brata kaping catur, Ya tapaning rasa jati, Heneng heningna kalbu, Mesuwa puja samadi, Heneng hening yekti dados.
13.
Kaping lima tapaning suksma puniku, Gelara marta martani, Lega legawaning kalbu, Haywa munasikeng jalmi, Amonga atining nguwong.
14.
Kaping neme tapaning cahya humatur, Waskitha kalawan eling, Datan samar ing pandulu, Eling panuntun basuki, Kadarma ati mancorong.
15.
Kaping pitu tapaning urip puniku, Santosa den ngati-ati akanthiya teguh timbul, Haywa was sumelang galih, Ngandela marang Hyang Manon.
16.
Kethokana kethoken bongkot lan pucuk, Samene bae nyukupi, Pan ora memurung laku, Lakon anglakoni pati amancat, Dabatil maut.
17.
Mung sakedap netra pangancase mangsuk, Umanjing suruping pati, Patitis jagad kinukut kukutan dadya sawiji, Rinacut, Manjing kedaton.
18.
Nanging ndulu kadaton ingkang kadulu, Yen Kadulu niniwasi, Katiwasan patinipun, Patiheng sasat dadya kenut, Manjing watu lan kakayon.
19.
Kayu watu ginelar dadya swarga gung, Saniskara amenuhi, Sarwa endah adi luhung, Asenen dipun enggeni, Aworbrakasakan jrangkong.
20.
Mindo gawe gagaweayan ora weruh, Weruh-weruh wus kawalik, Walikane sulang surup, Surup salah panampi, Tampane wus kejelomprong.
21.
Marmanipun santosa ateguh timbul, Kanthi awas lawan eling, Aywa samar ing pandulu, Kedaton ingkang sejati, Sajatine tan katongton.
22.
Tampa terus nerusi malebeng bumbung, Barumbunganing setroli, Padange kalangkung-langkung, Langgeng ora owah gingsir, Sire mulih dating MAnon.
23.
Meneng langgeng nora kocap tan winuwus, Nora mulat sawarga di, Pan rumangsa ngeyup, Malela lenge don adi, Dadi nabi wali awor.
24.
Gambir wungu nora cidra yektinipun, Lamun kang marsudeng gaib, Liningkap lelimpitanipun, Nora wus kuwatir, Ngandel caloroting batos.
25.
Wasiteng san mring sira wus tamat kulup, Mangkya ingsun minta pamit, Harsa mulih mring don luhung, Amung kurang limang ari, Salameta putraning ngong.
26.
Titenana rong windu aja dumawuh, Pulung gana kang sejati, Wartaning kang para jamhur, Ku sidaning kadadin, Dadi ning tapa kang manggon