BLOG IKI

BLOG KULAWARGA PUTRA-WAYAH SAKA SAWARGI MBAH MARWAH LAN MBAH BINEM NGARENGAN KIDUL, PLOSOREJO, KEDUNGGALAR, NGAWI, JAWA TIMUR.

Jumat, 02 September 2011

MENGHAFALKAN AL-QUR'AN?


Cara Termudah Menghafal Al-Qur`an Al-Karim
http://al-atsariyyah.com/cara-termudah-menghafal-al-quran-al-karim.html

Segala pujian hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, dan para sahabat seluruhnya.
Keistimewaan metode ini adalah seseorang akan memperoleh kekuatan dan kemapanan hafalan serta dia akan cepat dalam menghafal sehingga dalam waktu yang singkat dia akan segera mengkhatamkan Al-Quran. Berikut kami akan paparkan metodenya beserta pencontohan dalam menghafal surah Al-Jumuah:
1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali.
2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali.
3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali.
4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali
5. Keempat ayat di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali.
7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali.
8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali.
9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali.
10. Keempat ayat (ayat 5-8) di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
11. Bacalah ayat pertama hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.
Demikian seterusnya pada setiap surah hingga selesai menghafal seluruh surah dalam Al-Quran. Jangan sampai kamu menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, karena itu akan menyebabkan hafalanmu bertambah berat sehingga kamu tidak bisa menghafalnya.
JIKA AKU INGIN MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA, BAGAIMANA CARANYA?
Jika kamu ingin menambah hafalan baru (halaman selanjutnya) pada hari berikutnya, maka sebelum kamu menambah dengan hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas, maka anda harus membaca hafalan lama (halaman sebelumnya) dari ayat pertama hingga ayat terakhir (muraja’ah) sebanyak 20 kali agar hafalan ayat-ayat sebelumnya tetap kokoh dan kuat dalam ingatanmu. Kemudian setelah mengulangi (muraja’ah) maka baru kamu bisa memulai hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas.
BAGAIMANA CARANYA AKU MENGGABUNGKAN ANTARA MENGULANG (MURAJA’AH) DENGAN MENAMBAH HAFALAN BARU?
Jangan sekali-kali kamu menambah hafalan Al-Qur`an tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya. Hal itu karena jika kamu hanya terus-menerus melanjutkan menghafal Al-Qur’an hingga khatam tapi tanpa mengulanginya terlebih dahulu, lantas setelah khatam kamu baru mau mengulanginya dari awal, maka secara tidak disadari kamu telah banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal. Oleh karena itu metode yang paling tepat dalam menghafal adalah dengan menggabungkan antara murajaah (mengulang) dan menambah hafalan baru. Bagilah isi Al-Qur`an menjadi tiga bagian,yang mana satu bagian berisi 10 juz. Jika dalam sehari kamu telah menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga kamu menyelesaikan 10 juz. Jika kamu telah berhasil menyelesaikan 10 juz maka berhentilah menghafal selama satu bulan penuh dan isi dengan mengulang apa yang telah dihafal, dengan cara setiap hari kamu mengulangi (meraja’ah) sebanyak 8 halaman.
Setelah selesai satu bulan kamu mengulangi hafalan, sekarang mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan hafalan 20 juz. Jika kamu telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulangi hafalan 20 juz, dimana setiap hari kamu harus mengulang (meraja’ah) sebanyak 8 halaman. Jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.
Jika anda telah selesai menghafal semua isi Al-Qur`an, maka ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan, dimana setiap harinya kamu mengulang setengah juz. Kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya, juga diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama setiap harinya. Kemudian pindahlah untuk mengulang 10 juz terakhir dari Al-Qur`an selama sebulan, dimana setiap harinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.
BAGAIMANA CARA MERAJA’AH AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH AKU MENYELESAIKAN METODE MURAJA’AH DI ATAS?
Mulailah mengulangi Al-Qur’an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulanginya 3 kali dalam sehari. Dengan demikian maka kamu akan bisa mengkhatamkan Al-Qur’an sekali setiap dua minggu.
Dengan metode seperti ini maka dalam jangka satu tahun (insya Allah) kamu telah mutqin (kokoh) dalam menghafal Al-Qur’an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun penuh.
APA YANG AKU LAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL-QUR’AN SELAMA SATU TAHUN?
Setelah menguasai hafalan dan mengulangInya dengan itqan (mantap) selama satu tahun, hendaknya bacaan Al-Qur’an yang kamu baca setiap hari hingga akhir hayatmu adalah bacaan yang dilakukan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- semasa hidup beliau. Beliau membagi isi Al-Qur`an menjadi tujuh bagian (dimana setiap harinya beliau membaca satu bagian tersebut), sehingga beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sepekan.
Aus bin Huzaifah -rahimahullah- berkata: Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, “Bagaimana caranya kalian membagi Al-Qur`an untuk dibaca setiap hari?” Mereka menjawab:

نُحَزِّبُهُ ثَلَاثَ سُوَرٍ وَخَمْسَ سُوَرٍ وَسَبْعَ سُوَرٍ وَتِسْعَ سُوَرٍ وَإِحْدَى عَشْرَةَ سُورَةً وَثَلَاثَ عَشْرَةَ سُورَةً وَحِزْبَ الْمُفَصَّلِ مِنْ قَافْ حَتَّى يُخْتَمَ

“Kami membaginya menjadi (tujuh bagian yakni): Tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat, dan hizb al-mufashshal yaitu dari surat Qaf sampai akhir (mushaf).” (HR. Ahmad no. 15578).
Maksudnya:
-Hari pertama: Mereka membaca surat “al-fatihah” hingga akhir surat “an-nisa`”.
-Hari kedua: Dari surat “al-maidah” hingga akhir surat “at-taubah”.
-Hari ketiga: Dari surat “Yunus” hingga akhir surat “an-nahl”.
-Hari keempat: Dari surat “al-isra” hingga akhir surat “al-furqan”.
-Hari kelima: Dari surat “asy-syu’ara” hingga akhir surat “Yasin”.
-Hari keenam: Dari surat “ash-shaffat” hingga akhir surat “al-hujurat”.
-Hari ketujuh: Dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-nas”.
Para ulama menyingkat bacaan Al-Qur`an Nabi -shallallahu alaihi wasallam- ini menjadi kata: ”
فَمِي بِشَوْقٍ“. Setiap huruf yang tersebut menjadi simbol dari awal surat yang dibaca oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pada setiap harinya. Maka:
- Huruf “fa`” adalah simbol dari surat “al-fatihah”. Maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari pertama dimulai dari surah al-fatihah.
- Huruf “mim” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kedua dimulai dari surah al-maidah.
- Huruf “ya`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketiga dimulai dari surah Yunus.
- Huruf ”ba`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keempat dimulai dari surah Bani Israil yang juga dinamakan surah al-isra`.
- Huruf “syin” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kelima dimulai dari surah asy-syu’ara`.
- Huruf “waw” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keenam dimulai dari surah wash shaffat.
- Huruf “qaaf” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketujuh dimulai dari surah qaf hingga akhir muashaf yaitu surah an-nas.
Adapun pembagian hizib yang ada pada Al-Qur an sekarang, maka itu tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.
BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (AYAT YANG MIRIP) DALAM AL-QUR’AN?
Cara terbaik untuk membedakan antara dua ayat yang kelihatannya menurut kamu hampir sama (mutasyabih), adalah dengan cara membuka mushaf dan carilah kedua ayat tersebut. Lalu carilah perbedaan antara kedua ayat tersebut, cermatilah perbedaan tersebut, kemudian buatlah tanda/catatan (di dalam hatimu) yang bisa kamu jadikan sebagai tanda untuk membedakan antara keduanya. Kemudian, ketika kamu melakukan murajaah hafalan, maka perhatikanlah perbedaan tersebut secara berulang-ulang sampai kamu mutqin dalam mengingat perbedaan antara keduanya.
BEBERAPA KAIDAH DAN KETENTUAN DALAM MENGHAFAL AL-QUR`AN:
1- Kamu harus menghafal melalui bantuan seorang guru yang bisa membenarkan bacaanmu jika salah.
2- Hafalkanlah 2 halaman setiap hari: 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib. Dengan metode seperti ini (insya Allah) kamu akan bisa menghafal Al-Qur`an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun. Tetapi jika kamu memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka kemampuan menghafalmu akan melemah.
3- Menghafallah mulai dari surat an-nas hingga surat al-baqarah karena hal itu lebih mudah. Tapi setelah kamu menghafal Al-Qur`an maka urutan meraja’ahmu dimulai dari Al-Baqarah sampai An-Nas.
4- Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf saja (baik dalam cetakan maupun bentuknya), karena hal itu sangat membantu dalam menguatkan hafalan dan agar lebih cepat mengingat letak-letak ayatnya, ayat apa yang ada di akhir halaman ini dan ayat apa yang ada di awal halaman sebelahnya.
5- Setiap orang yang menghafal Al-Qur’an pada 2 tahun pertama biasanya apa yang telah dia hafal masih mudah hilang, dan masa ini disebut fase at-tajmi’ (pengumpulan hafalan). Karenanya janganlah kamu bersedih karena ada sebagian hafalanmu yang kamu lupa atau kamu banyak keliru dalam hafalan. Ini adalah fase yang sulit sebagai ujian bagimu, dan ini adalah fase rentan yang bisa menjadi pintu masuknya setan untuk menghentikan kamu dari menghafal Al-Qur`an. Tolaklah was-was tersebut dari dalam hatimu dan teruslah menghafal, karena dia (menghafal Al-Qur`an) merupakan perbendaharaan harta yang tidak diberikan kepada sembarang orang.
[Oleh: Asy-Syaikh Dr. Abdul Muhsin Muhammad Al-Qasim, imam dan khathib di Masjid Nabawi]
Komentarku ( Mahrus ali )
Ada metode lagi agar hapalan al quran kokoh tertanam dalam hati sanubari  dan pikiran anda , tidak mudah lenyap atau sulit di ingat.Gunakanlah , jangan  sia –siakan waktu malam untuk salat bukan untuk nonton jaringan setan yaitu sepak bola atau sekedar ngobrol sama teman atau berdiam diri untuk  semedi. Jangan tidur melulu tapi bangkitlah untuk mengambil air wudhu dan usahakan tempat salatmu dari tanah agar kamu bisa mencium ke tanah  bukan ke sajadah atau tikar ketika sujud. Ingatlah firmanNya :
وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلاً طَوِيلاً
Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

Ketika tahajjud bukan di luarnya  bacalah surat atau ayat – ayat yang telah anda baca dan hapal , jangan dibiasakan membaca surat – surat pendek , tapi jadikan kebiasaan baca surat – surat panjang  dan tiap hari tambahlah , jangan di kurangi hapalanmu terhadap ayat – ayat Allah bukan menghapal nama – nama  artis atau figur  - figur jaringan setan. Biasanya bacaan yang di gunakan  dalam salat tahajjud bukan  baca waktu siang di luar salat - akan tertanam  di lubuk hati yang dalam dan bisa di ingat  kembali – tidak cepat lenyap dan sulit mengingatnya.
Ingatlah firman Allah dan lupakan ayat – ayat setan sbb :
إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلاً
Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.
  Usahakan dalam salat wajib atau sunnah dengan membaca surat – surat yang telah kamu hapal , jangan kamu tidak melakukan salat wajib atau  sunat lalu hanya ingin  hapal UU Thaghut  atau nama – nama  figur setan manusia.
    Olahraga pernafasan juga membantu daya ingat dan mencerdaskan. Bila napasmu pendek apalagi kamu berat dalam berbicara , maka  sudah tentu kamu akan sulit bisa hapal al quran dengan lancar. Boleh kamu ikuti tata cara pernapasan  Yoga atau kamu meloncat – loncat pakai tali sepuluh menit waktu pagi dan sepuluh menit waktu sore.
   Bila kamu sulit untuk mengingat ayat , maka daya ingatanmu kurang , artinya aliran darah ke otak berkurang , dan peredaran darahmu kurang lancar , maka usahakan kamu nelakukan membalik tubuh , ya`ni taruhlah kepalamu di bawah dan kakimu di atas sepuluh menit  waktu pagi dan malamnya juga lakukan  seperti itu sepuluh menit . Jalankan dengan rutin tanpa malas , jangan sering libur dan malas.
    Bisa juga kamu terlalu banyak melakukan kemaksiatan , hindarilah maksiat kamu akan mudah mendapat ilmu yang benar bukan ilmu yang tampaknya benar tapi menyesatkan  dan mudah menghapal ayat Allah bukan ayat setan . Bila kamu beromocorah , banyak kemungkaran yang kamu jalan kan , maka sudah tentu kamu hanya dapat ilmu yang menyesatkan dan sulit mengingat hapalan ayat al quran  ,mudah menghapal kemungkaran  dan kejelekan.
Sebetulnya  masih banyak  kiat agar kuat menghapal al quran dan kokoh atau  sulit lenyap hapalanmu . Tapi saya  cukupi sekian dulu .
Saya akan mengkaji hadis dalam artikel tadi  sbb :
 Beliau membagi isi Al-Qur`an menjadi tujuh bagian (dimana setiap harinya beliau membaca satu bagian tersebut), sehingga beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sepekan.
Aus bin Huzaifah -rahimahullah- berkata: Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, “Bagaimana caranya kalian membagi Al-Qur`an untuk dibaca setiap hari?” Mereka menjawab:

نُحَزِّبُهُ ثَلَاثَ سُوَرٍ وَخَمْسَ سُوَرٍ وَسَبْعَ سُوَرٍ وَتِسْعَ سُوَرٍ وَإِحْدَى عَشْرَةَ سُورَةً وَثَلَاثَ عَشْرَةَ سُورَةً وَحِزْبَ الْمُفَصَّلِ مِنْ قَافْ حَتَّى يُخْتَمَ

“Kami membaginya menjadi (tujuh bagian yakni): Tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat, dan hizb al-mufashshal yaitu dari surat Qaf sampai akhir (mushaf).” (HR. Ahmad no. 15578).
Ia juga di riwayat kan oleh
Abu Dawud 1392 ,Ibnu Majah 1345
Komentarku ( Mahrus ali )

Sanadnya menurut Ahmad  sbb :
قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الطَّائِفِيُّ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَوْسٍ الثَّقَفِيِّ عَنْ جَدِّهِ أَوْسِ بْنِ حُذَيْفَةَ

Bercerita kepada kami  Abdul Rahman bin Mahdi lalu mengatakan , Bercerita kepada kami  Abdullah bin Abdul Rahman Al-tha`ifi dari  Usman Bin Abdullah bin Aus Tsaqafi dari kakeknya Aus bin Hudzaifah.

Ada perawi cacat yaitu :
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الطَّائِفِيُّ
Abdullah bin Abdul Rahman Al-tha`ifi
Identitasnya :


عَبْدُ الْلَّهِ بْنُ عَبْدِ الْرَّحْمَنِ بْنِ يَعْلَى بْنِ كَعْبٍ الْطَّائِفِىِّ ، أَبُوْ يَعْلَى الْثَّقَفِىُّ
الْطَّبَقَةُ : 7 : مِنْ كِبَارَ أَتْبَاعِ الْتَّابِعِيْنَ
مَرْتَبَتُهُ عِنْدَ ابْنِ حَجَرَ : صَدُوْقٌ يُخْطِىِءُ وَ يَهِمُ
مَرْتَبَتُهُ عِنْدَ الْذَّهَبِـيِ : قَالَ أَبُوْ حَاتِمٍ : لَيْسَ بِقَوِىٍّ
Abdullah bin Abdul Rahman bin Ka'b bin Ya`la at thoifi , Abu Ya`la  Tsaqafi
Rank : 7:  termasuk  pengikut tabiin yang  senior
Peringkat menurut Ibnu Hajar:  Jujur , keliru dalam menghapal dan ngelantur .
Peringkat menurut dzahabi : Kata Abu Hatim:  Dia tidak kuat hapalannya. [1]

Muhammad Fadhil bin Bilal al Ghozal menyatakan dalam
 http://www.akssa.org/vb/showthread.php?t=971
اسْنَادُهُ حَسَنٌ
وَقَالَ أَحْمَدُ شَاكِر فِيْمَا نَقَلَهُ فِيْ –تَهْذِيْبِ الْسُّنَنِ -(2/113) عَنْ ابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ:أَنَّ ابْنَ مَعِيْنٍ قَالَ : حَدِيْثُهُ عَنِ الْنَّبِيّ - صَلَّى الْلَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِيْ تَحْزِيبِ الْقُرْآَنِ لَيْسَ بِالْقَائِمِ. وَضَعَّـفَهُ الْأَلْبَانِيُّ فِيْ دِفَاعٍ عَنِ الْحَدِيْثِ ، كَمَا فِيْ ضَعِيْفِ ابْنِ مَاجَهْ (283). لَكِنْ حَسَّنَهُ الْحَافِظُ الْعِرَاقِيُّ فِيْ تَخْرِيْجِ الْإِحْيَاءِ (1/276) وَالْحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ كَمَا فِي الْفُتُوحَاتِ لِابْنِ عَلاَّنَ (3/229). وَأَوْرَدَهُ الْحَافِظُ ابْنُ كَثِيْرٍ فِيْ تَفْسِيْرِهِ مُحْتَجَّا بِهِ عَلَى أَنَّ الْمُفَصَّلَ يَبْتَدِئُ مِنْ سُوْرَةِ (قَ). وَاحْتَجَّ بِهِ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّه فِيْ حَدِيْثِهِ عَنْ الْتَّحْزِيبِ بِالسُّوَرِ.
Sanadnya  Hasan
Ahmad Syakir berkata sebagaimana  di kutip  di Tahdzibis  Sunan - (2 / 113) dari Ibnu 'Abd al-Barr: Bahwa Ibnu Ma`in berkata , Hadisnya dari  Nabi - saw tentang pengelompokan Quran bukan hadis yang sahih ( lemah )  . Dan Al bani juga melemahkan  dalam kitab Difa` anil hadis seperti dalam kitab  dhoif ibnu Majah  (283). Tapi al Iraki menyatakan  sebagai hadis hasan dalam  kitab Takhrij ihya` (1 / 276) dan Al-Hafiz Ibnu Hajar juga dalam al futuhat  karya Ibn Allan (3 / 229). Dan  Al  Hafiz Ibnu Katsir juga mencantumkan  hadis tsb  dalam  kitab tafsirnya  dengan menyatakan bahwa Al mufasshol  dimulai dari Surat ( Qaf ).  Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah juga berpegangan kepadanya dalam ceramahnya tentang  pengelompokan surat al quran .
Komentarku ( Mahrus ali )
Muhammad Fadhil bin Bilal al Ghozal menyatakan :

Tapi al Iraki menyatakan  sebagai hadis hasan dalam  kitab Takhrij ihya` (1 / 276)
Komentarku ( Mahrus ali )
 Sekalipun di hasan kan oleh Al Iraki , namun masih tetap melalui jalur perawi Abdullah bin Abd rahman yang lemah itu . Di buat hujjah oleh Ibnu Taimiyah tidak ber arti  hadis lemah itu menjadi sahih atau perawi yang jelas sering keliru menjadi perawi yang di percaya.  Hadis itu tidak dikenal di kalangan sahabat , lihat pernyataan Abul mu`athi  sbb :
المسند الجامع - (ج 3 / ص 170)
أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ 4/9(16266) وَ4/343(19230) قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ الْرَّحْمَانِ بْنُ مَهْدِيٍّ. وَ"أَبُوْ دَاوُدَ" 1393 قَالَ : حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، أَخْبَرَنَا قُرَّانُ بْنُ تَمَّامٍ (حَ) وَحَدَّثَنَا عَبْدُ الْلَّهِ بْنُ سَعِيْدٍ ، أَخْبَرَنَا أَبُوْ خَالِدٍ. وَ"ابْنُ مَاجَةَ" 1345 قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ ، حَدَّثَنَا أَبُوْ خَالِدٍ الْأَحْمَرِ.
ثَلَاثَتُهُمْ (ابْنُ مَهْدِيٍّ ، وَقُرَّانُ ، وَأَبُوْ خَالِدٍ) عَنْ عَبْدِ الْلَّهِ بْنِ عَبْدِ الْرَّحْمَانِ بْنِ يَعْلَى الْطَّائِفِيُّ ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ الْلَّهِ بْنِ أَوْسٍ ، فَذَكَرَهُ.
Diriwayatkan oleh Ahmad, 4 / 9 (16 266) dan 4 / 343 (19 230) lalu berkata: Bercerita  kepada kami Abdul Rahman bin Mahdi. Dan "Abu Dawud" 1393 berkata: Bercerita kepada  kami Musaddad , Bercerita kepada  kami Qurran  Bin Tamam (Pindah sanad ) Bercerita kepada kami  Abdullah Bin Said, lalu mengatakan bercrita kepada kami  Abu Khaled. Dan "Ibnu Majah," berkata 1345: Bercerita kepada kami  Abu Bakar bin Abi Shaybah, Abu Khalid al ahmar bercerita kepada kami .
Ketiga dari mereka (Ibn Mahdi, dan Quran, dan Abu Khalid)  dari Abdullah bin Abdul Rahman bin Ya`la al tha`ifi ,  dari  Utsman bin Abdullah bin Aus, lalu dia menyebutkan…………………. hadis itu.

Komentarku ( Mahrus ali )
Lihat , ternyata hadis tsb hanya dari satu jalur perawi yaitu Abdullah bin Abd rahman yang lemah itu  bukan perawi terpercaya  . Bila ada orang yang mensahihkan atau menghasankan tiada  gunanya . Ada gunanya bagi orang yang tidak mengerti . Pada  hakikatnya  juga dari jalur Abdullah bin Abd rahman yang lemah , tiada jalur lain yang mendukungnya baik sahih atau lemah . Dan Usman bin Abdullah sendiri – gurunya  , juga  masih di perselisihkan kwalitasnya  dalam hapalan .Karena itu , Imam Dzahabti  no comment . 

Sabtu, 27 Agustus 2011

mengapa Muhammadiyah menggunakan metode hisab


Salah satu saat Muhammadiyah ‘naik’ di media massa adalah ketika menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Pasalnya, Muhammadiyah yang memakai metode hisab terkenal selalu mendahului pemerintah yang memakai metode rukyat dalam menentukan masuknya bulan Qamariah. Hal ini menyebabkan ada kemungkinan 1 Ramadhan dan 1 Syawal versi Muhammadiyah berbeda dengan pemerintah. Dan hal ini pula yang menyebabkan Muhammadiyah banyak menerima kritik, mulai dari tidak patuh pada pemerintah, tidak menjaga ukhuwah Islamiyah, hingga tidak mengikuti Rasullullah Saw yang jelas memakai rukyat al-hilal. Bahkan dari dalam kalangan Muhammadiyah sendiri ada yang belum bisa menerima penggunaan metode hisab ini.
 
Umumnya, mereka yang tidak dapat menerima hisab karena berpegang pada salah satu hadits yaitu “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan bebukalah (idul fitri) karena melihat hilal pula. Jika bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka genapkanlah bilangan bulan Sya’ban tigapuluh hari” (HR Al Bukhari dan Muslim). Hadits tersebut (dan juga contoh Rasulullah Saw) sangat jelas memerintahkan penggunaan rukyat, hal itulah yang mendasari adanya pandangan bahwa metode hisab adalah suatu bid’ah yang tidak punya referensi pada Rasulullah Saw. Lalu, mengapa Muhammadiyah bersikukuh memakai metode hisab? Berikut adalah alasan-alasan yang  diringkaskan dari makalah Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A. yang disampaikan dalam pengajian Ramadhan 1431.H PP Muhammadiyah di Kampus Terpadu UMY.
 
Hisab yang dipakai Muhammadiyah adalah hisab wujud al hilal, yaitu metode menetapkan awal bulan baru yang menegaskan bahwa bulan Qamariah baru dimulai apabila telah terpenuhi tiga parameter: telah terjadi konjungsi atau ijtimak, ijtimak itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan pada saat matahari terbenam bulan berada di atas ufuk. Sedangkan argumen mengapa Muhammadiyah memilih metode hisab, bukan rukyat, adalah sebagai berikut.
 
Pertama, semangat Al Qur’an adalah menggunakan hisab. Hal ini ada dalam ayat “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS 55:5). Ayat ini bukan sekedar menginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.
 
Kedua, jika spirit Qur’an adalah hisab mengapa Rasulullah Saw menggunakan rukyat? Menurut Rasyid Ridha dan Mustafa AzZarqa, perintah melakukan rukyat adalah perintah ber-ilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena ummat zaman Nabi saw adalah ummat yang ummi, tidak kenal baca tulis dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim,“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari”. Dalam kaidah fiqhiyah, hukum berlaku menurut ada atau tidak adanya ilat. Jika ada ilat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak ada yang dapat melakukan hisab, maka berlaku perintah rukyat. Sedangkan jika ilat tidak ada (sudah ada ahli hisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi. Yusuf Al Qaradawi menyebut bahwa rukyat bukan tujuan pada dirinya, melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang oleh Al Qaradawi disebut seorang salafi murni, menegaskan bahwa menggunakan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat di mana tidak ada orang mengetahui hisab.
 
Ketiga, dengan rukyat umat Islam tidak bisa membuat kalender. Rukyat tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada H-1. Dr.Nidhal Guessoum menyebut suatu ironi besar bahwa umat Islam hingga kini tidak mempunyai sistem penanggalan terpadu yang jelas. Padahal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik.
 
Keempat, rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global. Sebaliknya, rukyat memaksa umat Islam berbeda memulai awal bulan Qamariah, termasuk bulan-bulan ibadah. Hal ini karena rukyat pada visibilitas pertama tidak mengcover seluruh muka bumi. Pada hari yang sama ada muka bumi yang dapat merukyat tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat merukyat.  Kawasan bumi di atas lintang utara 60 derajad dan di bawah lintang selatan 60 derajad adalah kawasan tidak normal, di mana tidak dapat melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya atau terlambat dapat melihatnya, yaitu ketika bulan telah besar. Apalagi kawasan lingkaran artik dan lingkaran antartika yang siang pada musim panas melabihi 24jam dan malam pada musim dingin melebihi 24 jam.
 
Kelima, jangkauan rukyat terbatas, dimana hanya bisa diberlakukan ke arah timur sejauh 10 jam. Orang di sebelah timur tidak mungkin menunggu rukyat di kawasan sebelah barat yang jaraknya lebih dari 10 jam. Akibatnya, rukyat fisik tidak dapat menyatukan awal bulan Qamariah di seluruh dunia karena keterbatasan jangkauannya. Memang, ulama zaman tengah menyatakan bahwa apabila terjadi rukyat di suatu tempat maka rukyat itu berlaku untuk seluruh muka bumi. Namun, jelas pandangan ini bertentangan dengan fakta astronomis, di zaman sekarang saat ilmu astronomi telah mengalami kemajuan pesat jelas pendapat semacam ini tidak dapat dipertahankan.
 
Keenam, rukyat menimbulkan masalah pelaksanaan puasa Arafah. Bisa terjadi di Makkah belum terjadi rukyat sementara di kawasan sebelah barat sudah, atau di Makkah sudah rukyat tetapi di kawasan sebelah timur belum. Sehingga bisa terjadi kawasan lain berbeda satu hari dengan Makkah dalam memasuki awal bulan Qamariah. Masalahnya, hal ini dapat menyebabkan kawasan ujung barat bumi tidak dapat melaksanakan puasa Arafah karena wukuf di Arafah jatuh bersamaan dengan hari Idul Adha di ujung barat itu. Kalau kawasan barat itu menunda masuk bulan Zulhijah demi menunggu Makkah padahal hilal sudah terpampang di ufuk mereka, ini akan membuat sistem kalender menjadi kacau balau.
 
Argumen-argumen di atas menunjukkan bahwa rukyat tidak dapat memberikan suatu penandaan waktu yang pasti dan komprehensif. Dan karena itu tidak dapat menata waktu pelaksanaan ibadah umat Islam secara selaras diseluruh dunia. Itulah mengapa dalam upaya melakukan pengorganisasian system waktu Islam di dunia internasional sekarang muncul seruan agar kita menggunakan hisab dan tidak lagi menggunakan rukyat. Temu pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam (Ijtima’ al Khubara’ as Sani li Dirasat Wad at Taqwimal Islami) tahun 2008 di Maroko dalam kesimpulan dan rekomendasi (at Taqrir al Khittami wa at Tausyiyah) menyebutkan: “Masalah penggunaan hisab: para peserta telah menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan Qamariahdi kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan Qamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat”.
(Disalin sesuai dengan aslinya oleh PD IPM Kabupaten Magelang dari: http://immugm.web.id ).

Senin, 22 Agustus 2011

PADHANYANGAN DAN KOMENTAR MANTAN KYAI NU

DHANYANG TANAH JAWA

 SINOM

1. Apuranên sun angetang Lêlêmbut ing Nusa Jawi, Kang rumêksa ing nagara, Para Ratuning dhêdhêmit, Agung sawabe ugi, Yen eling sadayanipun, Pedah kinarya tulak, Ginawe tunggu wong sakit, Kayu aeng lemah sangar dadi tawa.
2. Kang rumiyin ing bang wetan, Durganêluh Majapahit, Lawan Raja Bahurêksa, Iku Ratuning dhêdhêmit, Blambangan kang winarni, Awasta Sang Balabatu, Aran Buta Locaya, Kang rumêksa ing Kadhiri, Prabhu Yêksa kang rumêksa Giripura.

3. Sidagori ing Pacitan, Kaduwang si Klênthingmungil, Endrayaksa ing Magêtan, Jênggala si Tunjungputih, Prangmuka Surabanggi, Pananggulan Abur-Abur, Sapujagad ing Jipang, Madiyun si Kalasêkti, Pan si Koreb lêlêmbut ing Panaraga.

4. Singabarong Jagaraga, Majênang Trênggilingwêsi, Macan Guguh Garobogan, Kalajangga Singasari, Sarengat Barukuping, Balitar si Kalakathung, Butakurda ing Rawa, Kalangbret si Sêkar Gambir, Carub Awor kang rumêksa ing Lamongan.

5. Gurnita ing Puspalaya, Si Lêmpur ing Pilangputih, Si Lancuk aneng Balora, Pagambiran Kalasêkti, Kêdhunggêne Ni Jênggi, Ki Bajangklewer puniku, Nglasêm Kalabrahala, Sidayu Si Cicingmurti, Ki Jalangkah ing Candhi kahyanganira.

6. Sêmarang Baratkatiga, Pakalongan Guntur Gêni, Pêcalang Si Sambangyuda, Sarwaka ing Sukawati, Ing Padhas Nyai Ragil, Jayalêlana ing Suruh, Buta Trênggiling Têgal, Ing Têgal si Guntinggêni, Kaliwungu Gutuk Api kang rumêksa.

7. Magêlang Ki Samahita, Dhadhungawuk Gêsêng nênggih, Buta Salewah ing Pajang, Manda-Manda ing Matawis, Paleret Rajêgwêsi, Kutha Gêdhe Nyai Panggung, Pragota Kartasura, Cirêbon Setan Koberi, Juru Taman ingkang aneng Têgallayang.

8. Gênawati ing Seluman, Ki Kêmandhang Wringinputih, Si Karêtêk Pajajaran, Sapuregel ing Batawi, Ki Drusul ing Banawi, Ingkang aneng Gunung Agung, Ki Tlêkah Ngawang-Awang, Ki Tlapa Ardi Mêrapi, Ni Taruki ingkang ana ing Tunjungbang.

9. Setan Karêtêg ing Kêndhal, Pamasuhan Sapuangin, Kresnapada ing Rangkudan, Ni Pandhansari ing Srisig, Kang aneng Wanapêthi, Palangkarsa wastanipun, Ki Candhung ing Sawahan, Plabuhan Ki Dudukwarih, Buta Tukang kanganeng ing Palayangan.

10. Ni Rara Aris ing Bawang, Ing Tidhar Ki Kalasêkti, Ki Padurêksa Sundara, Ki Jalela Ardi Sumbing, Ngungrungan Kêsbumurti, Ki Krama Ardi Rêbabu, Nirbangsan Ardi Kombang, Prabu Jaka Ardi Kêlir, Ajidipa Gunung Kêndhêng kang den rêksa.

11. Ing Pasisir Butakala, Cilacap Si Kalasêkti, Kalanadhah ing Banyumas, Sigaluh aran si Prênthil, Banjaran Ki Wêwasi, Kyai Korog ing Lowanu, Gunung Duk Gêniyara, Nyai Burêng Parangtritis, Drêmbamoha ingkang aneng Prabalingga.

12. Ki Kêrta Sangkalbolongan, Kêdhungandhong Winongsari, Ing Jênu Ki Karungkala, Ing Pêngging Banjaransari, Ing Kêdhu kang nênggani, Anama Ki Candralatu, Gunung Kêndhalisada, Kêthek Putih kang nênggani, Buta Glêmboh ing Ngayah Kahyanganira.

13. Ni Rara Denok ing Dêmak, Ing Tuban Nyai Bathithing, Ing Kuwu Ki Juwalpayal, Si Jungkit ing Guyang nênggih, Trênggalek Ni Daruni, Tunjungseta Cêmarasewu, Kalawadhung Kênthongan, Jêpara Ki Wanengtaji, Bagus Anom ing Kudus kahyanganira.

14. Magiri Ki Manglarmonga, Ing Gadhing Ki Puspasari, Kêtanggung Ki Klanthungwêlah, Brengkelen si Banaspati, Ni Kopek ing Manoreh, Ing Têngah si Sabuk Alu, Nglandhak Ki Mayangkara, Si Gori Kêdhungcuwiri, Baruklinthing ingkang ana ing Bahrawa.

15. Sunan Lawu Ngargapura, Ing Bayat si Puspakati, Cucuk Dandang ing Kartikan, Kulawarga Tasikwêdhi, Kali Opak winarni, Sanggabuwana ranipun, Si Kecek Pajarakan, Cingcinggoling Kaliwêning, Ing Dahrama Ula Wêlang kang rumêksa.

16. Kang aneng Kayulandeyan, Ki Daruna Ni Daruni, Bagus Karang aneng Roban, Sangujaya Udanriris, Sidarengga Dalêpih, Si Gadhung Kêdhunggarunggung, Kang aneng Bojanêgara, Citranaya kang nênggani, Gênapura kang aneng ing Majapura.

17. Ki Logenjang ing Juwana, Ing Rêmbang si Bajulbali, Ki Lender ing Wirasaba, Madura Ki Buta Gigris, Kang ngrêksa ing Matêsih, Jaranpanoleh ranipun, Ki Londir Pacangakan, Si Landhêp Jatisan, Ondar Andir ingkang aneng Jatimalang.

18. Arya Tiron ing Lodaya, Sarpa Bangsa ing Pêning, Pêrang Tandang ing Kasanga, Ing Crewek Ki Mandamandi, Setan Telaga Pasir, Ingkang Aran Ki Jalinglung, Kalanadhah ing Tuntang, Bancuri Kalabancuri, Kang rumêksa sukune Ardi Baita.

19. Ragadungik Randhulawang, Ing Sêndhang Rêtna Pêngasih, Buta Kapa ing Prambanan, Mbok Sampurna Ardi Wilis, Raden Galinggangjati, Kang rumêksa Gajahmungkur, Si Gêndruk ing Talpêgat, Ngêmbel Raden Panjisari, Pagêrwaja kang aran Udakusuma.

20. Ki Pênthul ing Pakacangan, Cangakan si Dodotkawit, Kalangkung ing sêktinira, Titihane kuda putih, Cakra payungneki, Lar waja kêkêmulipun, Pan sami rinajegan, Rêspati rajege wêsi, Camêthine pat-upate ula lanang.

21. Sinabêtakên mangetan, Ana lara têka bali, Tinulak bali mangetan, Mangidul panyabêtneki, Lara prapta ambalik, Tinulak bali mangidul, Ngulon panyabêtira, Ana lara têka bali, Pan tinulak mangulon bali kang lara.

22. Mangalor panyabêtira, Ana lara têka bali, Mangalor bali tinulak, Anulya nyabêt manginggil, Lara prapta ambalik, Tinulak bali mandhuwur, Nulya nyabêt mangandhap, Ana lara têka bali, Pan tinulak larane bali mangandhap.

23. Dhêmit kang aneng Jêpara, Lan dhêmit kang aneng Pathi, Kalangkung kasêktenira, Juweya wastaneki, Gus Rema Tambaksuli, Kudapêksa ing Dêlanggung, Ki Klunthung Ringinpêthak, Ni Gambir ing Glagahwangi, Si Kacubung Kadilangu kang den rêksa.

24. Ni Dulêg ing Pamancingan, Guwa Langse Nini Suntring, Kang rumêksa Parang Wedang, Raden Arya Jayengwêsthi, Kabeh urut pasisir, Kulawarga Nyai Kidul, Sampun pêpak sadaya, Para Ratuning Dhêdhêmit, Nusa Jawa paugêran kang rumêksa.
Pemutsalah satu member blog mantan kyai NU

 Komentarku  ( Mahrus ali )

Keberadaan dhanyang itu sumbernya dari ilmu kejawen , ilmu leluhur yang budha – bukan Islam ala ahli hadis , mungkin juga masih di percaya oleh kalangan muslim ala ahli bi`d`ah . Ia  syirik murni  bukan tauhid , dan menghapus amal perbuatan yang baik tinggal kejelekan saja lalu di tambah dosa besar yang takkan di ampun oleh Allah dan di senangi oleh setan – setan manusia dan jin . Ia mirip  dengan ayat :
أَمْ لَهُمْ ءَالِهَةٌ تَمْنَعُهُمْ مِنْ دُونِنَا لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَ أَنْفُسِهِمْ وَلَا هُمْ مِنَّا يُصْحَبُونَ(43)بَلْ مَتَّعْنَا هَؤُلَاءِ وَءَابَاءَهُمْ حَتَّى طَالَ عَلَيْهِمُ الْعُمُرُ أَفَلَا يَرَوْنَ أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا أَفَهُمُ الْغَالِبُونَ
Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka dilindungi dari (azab) Kami itu?Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka. Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri (orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya. Maka apakah mereka yang menang?[1]
Ada ayat lain lagi sbb :
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ(40)قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ
Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: "Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?".Malaikat-malaikat itu menjawab: "Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka: bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu".[2]
 Beriman kepada jin/ dhanyang, perintah jin/ dhanyang di jalankan sekalipun bertentangan dengan ajaran Allah , lalu perintah Allah  tidak di jalankan . Ini perbuatan yang sangat di benci oleh Allah dan di senangi Iblis . .Kebanyakan orang yang melakukan sedemikian ini para normal atau dukun yang pengobatannya ngejos, bukan kyai yang tidak bisa mengobati penyakit . Mereka  banyak tamunya bukan pengikut pengajiannya . Dan  perbuatan mereka   banyak yang melanggar syariat  cocok dengan ajaran setannya .  Ada hadis sbb :
عَنْ عَبْدِاللَّهِ ( إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ ) قَالَ كَانَ نَاسٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعْبُدُونَ نَاسًا مِنَ الْجِنِّ فَأَسْلَمَ الْجِنُّ وَتَمَسَّكَ هَؤُلَاءِ بِدِينِهِمْ
Dari Abdullah  berkata : Orang – orang menyembah jin lalu jinnya masuk Islam  dan mereka masih kufur .
Itulah maksud ayat :
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.[3]
Beberapa orang menyembah jin ,lalu jinnya masuk Islam  dan mereka masih tetap memegang agamanya  . [4]


[1] Anbiya` 43-44
[2] Saba` 40 –41
[3]  Al Isra` 57
[4] HR Bukhori 4714

Jumat, 12 Agustus 2011

DO’A DAN DZIKIR KETIKA ADZAN DAN SESUDAHNYA

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ r قَالَ: ((إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ ))
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudry t, sesungguhnya Rasulullah r pernah bersabda: “Apabila kamu mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah t, bahwa Rasulullah r bersabda: “Siapa yang setelah  mendengar adzan mengucapkan:

(( اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ ))

“Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan yang sempurna ini, dan shalat yang didirikannya, berilah Muhammad kedudukan yang tinggi dan kemuliaan, serta bangkitkanlah dia di tempat yang terpuji, yang telah Engkau janjikan”.
Maka baginya syafa’atku pada hari kiamat”.                (HR. Bukhari).

Dalam riwayat Baihaqi pada akhir do’a tersebut ditambahkan:

(( إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ  ))
“Sesungguhnya Engkau tidak pernah mengingkari janji”.

Sebenarnya tambahan ini adalah lemah, karena tambahan ini riwayatnya syadz (ganjil) lihat; Irawa’ul Ghalil:   1 : 260-261.
Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash t dari Rasulullah r, bahwasanya beliau bersabda: “Siapa yang setelah adzan mengucapkan:

(( أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً وَبِالإِسْلاَمِ دِيْنًا))
“Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya. Aku rela menjadikan Allah sebagai Tuhan, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agama”.
Maka Allah U akan mengampuni segala dosanya”.      (HR. Muslim).

Umar bin Khattab t pernah berkata; bahwa Rasulullah r pernah bersabda:
(( إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، قَالَ: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، قَالَ: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. ثُمَّ قَالَ: اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، قَالَ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ))
“Apabila muadzin menyerukan: “Allahu Akbar, Allahu Akbar”, maka seseorang dari kamu mengucapkan: “Allahu Akbar, Allahu Akbar“. Ketika muadzin menyerukan: “Asyhadu Alla ilaaha Illallah“, diapun mengucapkan: “Asyhadu Alla ilaaha Illallah“. Ketika muadzin menyerukan: “Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah”, maka diapun mengucapkan: “Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah“. Ketika muadzin menyerukan: “Hayya ‘alash Shalaah“, maka dia mengucapkan: “Laa Haula wala quwwata Illaa Billah”. Ketika muadzin menyerukan: “Hayya ‘alal Falaah”, maka dia mengucapkan: “Laa haula wala quwwata Illaa billah“. Tatkala muadzin menyerukan: “Allahu Akbar, Allahu Akbar“, diapun mengucapkan: “Allahu Akbar, Allahu Akbar“. Tatkala muadzin menyerukan: “Laa Ilaaha Illallah“, maka diapun mengucapkan: “La ilaaha illallah“.
Dan jika hal ini dia ucapkan dari lubuk hatinya, maka orang itu akan masuk sorga”. (HR. Muslim).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al ’Ash y bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah r bersabda:
(( إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ، ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا. ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ فَإِنَّهَا مَنْـزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِيْ إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأَرْجُوْ أَنْ أَكُوْنَ أَنَا هُوَ, فَمَنْ سَأَلَ اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ ))
“Apabila kamu mendengar muadzin (menyerukan adzan), maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin, kemudian ucapkanlah shalawat atasku, karena sesungguhnya siapa yang mengucapkan shalawat atasku sekali, maka Allah U akan memberinya sepuluh rahmat. Kemudian mohonlah kepada Allah untukku Al Wasilah sesungguhnya Al Wasilah itu suatu tempat di sorga yang tidak diperuntukkan kecuali bagi seorang hamba dari hamba-hamba-Nya. Aku berharap agar semoga akulah hamba itu. Siapa yang mintakan untukku Al Wasilah, maka dia akan mendapatkan syafa’atku”. (HR. Muslim).

Sabtu, 30 Juli 2011

DHANDHANGGULA

1. Dhedhet tidhem prabawaning ratri, sasadara wus manjer kawuryan, tan kuciwa memanise, menggep Sri Nateng dalu, sinewaka sanggyaning dasih, aglar neng cakrawala, winulat ngelangut, prandene kabeh kebekan, saking kehing taranggana kang sumiwi, warata tanpa sela.

2. Kinalangan kekuwung ngawengi, lir wewengkon bale Mandhakiya, pasewakaning Pamase, jroning kalang kadulu, kang sumewa pareng neng ngarsi, mung punggawa sajuga, Harya Panjersurup, pramukyaning taranggana, kang sawega rumeksa pringganing ratri, ngayomi hayuningrat.


3. Tan petungan panjrahing wadya lit, arahane awor mawurahan, ngapit narmada prenahe, jro petenging Serayu, angragancang Sang Bimasakti, nyuwak tutuking naga, kang sikareng laku, yeku mangka pralampita, mrih mengeta kang mantep tetep ing budi, widada kang sinedya.


4. Nekawarna pangkating wadya ji, nora worsuh tataning sewaka, gumolong gegelengane, ..................... , pandomaning para mong tani,. gelaring panangkilan, rinakit waluku, wuluh wuku lan kukusan, gubug penceng malencat wor lanjar ngirim, mangro lakuning mangsa.


5. Kang sumewa luhuring udadi, pan pinindha dhapuring giyota, pra nangkodha pandomane, de kang dadya pituduh, pamardine kang ulah kardi, sinamar neng busana, kasarireng Prabu, jroning praba marakata, sinung tandha pindha widadari ngantih, neng soring wringin sungsang.


6. Kang saweneh punggawa piniji, asung penget pangreksaning raga, ing masa roga praptane, yeku Harya Kumukus, manjer dwaja neng pancaniti, tangeh yen winursita, satataning dalu, dungkap luwaring sewaka, Jaka Belek merem melek melik-melik, sasmita minta nendra.


7. Samantara wus banguning rawi, Hyang Purnama meh manjing ngancala, gumiwang surem sunare, sawung pareng kaluruk, kapiyarsa melung-melungi, mring kang kasuwen nendra, ywa kongsi kadarung, mengeta mring pangarcana, angluhurna gunge kawasaning Hyang Widdhi, kang nitah saniskara.


8. Dyan umimba punggawaning ratri, riyap-riyep ri Sang Panjer Rina, lir pasrah pangawasane, denya rumekseng dalu, pangasoning sagung dumadi, wus sedheng pinardiya, ngayati panggayuh, iyeging panambut karya, datan liyan Hyang Surya kang mirowangi, tuduh sidining sedya.


9. Tanggap mulat Hyang Harga naketi, dumipeng rat ambabar prabawa, sumirat-sirat sorote, mega sinungging wungu, graning arga pinulas wilis, samantara kawuryan, Hyang Surya wus mungup, ngancik pucaking aldaka, larut mirut tedhuhing dalu kalindhih, sumeblak tanpa sesa.


10. Anglur selur lakune wong tani, sareng mangkat maring papasaran, pating krengkot pikulane, weneh sikep waluku, maring tegal sawahe sami, si Gundhul nethek kandhang, kebone pinecut, ngucul sarwi tinumpakan, ngenak-enak neng gigir marep neng wuri, sembari ura-ura.


11. Melang-melung lelagon ginurit, alon bae “hir hir kiya kiya !”, uler kambang satitahe, nora napa kesusu, yen narima karsaning pasthi, lakune wis jinangka, jangkahe den ukur, kesusu amburu apa, yen wong murka anggake kudu ndheweki, wus turah durung nrima.


12. Nora menget adile Hyang Widdhi, denya mandum jatining pangrasa, tan pisan baukapine, sanggyaning kang tumuwuh, binageyan legi lan pait, nadyan silih darbeya, wisma lir swargagung, kinunci kancing kencana, nora wurung susahe nlesep nusupi, tumameng mangsakala.


13. Yen pinuntu pantoging gyat yekti, nora suka murka ngangsa-angsa, anjangka kang kae-kae, karana kang tinemu, nora liya suka lan sedhih, demange nora beda, lan si Gundhulpacul, mene seneng mene susah, yen narima sudahe mirut sumingkir, rampung tanpa prakara.


14. Ayem guyem kang kaya wak mami, repet-repet wus berag neng beran, ngadhang segering srengenge, molah nglalatih balung, ngulur otot ngingirih getih, lir kukila neng tawang, mina neng jro kedhung, sajege sun dadi bocah, durung wikan rasaning badan nglelentrih, mung bingar tyas pirena.


15. Temah tuwuh segere nartani, lengeningsung kiyale kalintang, mathekel katon kucinge, keneng sawabing ebun, kang sinebar ing maruta ris, woring sorot tembeyan, doyananing banyu, Hyang Surya tan kadang konang, denya mandum prabane sinami sami, tan mawang milih janma.


16. Lamun ngelak ingong darbe warih, kang sumreweh nuting padhas gempal, wening tur sumyah rasane, sakehing kang sinebut, omben-omben ingong kilani, mangsa silih nyundhula, lan segering banyu, mengko nadhah lan janganan, sambel rawit lalaban timun lan metir, segane beras anyar.


17. Setham-sethom segere kapati, yen wus enak weh kuwating raga, apa maneh jalukane, sore ngong mapan turu, aneng lincak lambaran widhig, mrenah wurining damar, sumamar neng ngundhuk, tentrem rasaning tyas ingwang, mung kumandel kinemulan ing Hyang Widdhi, bleg-seg tanpa mirasa. 


Pethikan saka : Burat Sari II, S Prawiradihardja.

Minggu, 10 Juli 2011

DHANYANG TANAH JAWA

 SINOM

1. Apuranên sun angetang Lêlêmbut ing Nusa Jawi, Kang rumêksa ing nagara, Para Ratuning dhêdhêmit, Agung sawabe ugi, Yen eling sadayanipun, Pedah kinarya tulak, Ginawe tunggu wong sakit, Kayu aeng lemah sangar dadi tawa.

2. Kang rumiyin ing bang wetan, Durganêluh Majapahit, Lawan Raja Bahurêksa, Iku Ratuning dhêdhêmit, Blambangan kang winarni, Awasta Sang Balabatu, Aran Buta Locaya, Kang rumêksa ing Kadhiri, Prabhu Yêksa kang rumêksa Giripura.

3. Sidagori ing Pacitan, Kaduwang si Klênthingmungil, Endrayaksa ing Magêtan, Jênggala si Tunjungputih, Prangmuka Surabanggi, Pananggulan Abur-Abur, Sapujagad ing Jipang, Madiyun si Kalasêkti, Pan si Koreb lêlêmbut ing Panaraga.

4. Singabarong Jagaraga, Majênang Trênggilingwêsi, Macan Guguh Garobogan, Kalajangga Singasari, Sarengat Barukuping, Balitar si Kalakathung, Butakurda ing Rawa, Kalangbret si Sêkar Gambir, Carub Awor kang rumêksa ing Lamongan.

5. Gurnita ing Puspalaya, Si Lêmpur ing Pilangputih, Si Lancuk aneng Balora, Pagambiran Kalasêkti, Kêdhunggêne Ni Jênggi, Ki Bajangklewer puniku, Nglasêm Kalabrahala, Sidayu Si Cicingmurti, Ki Jalangkah ing Candhi kahyanganira.

6. Sêmarang Baratkatiga, Pakalongan Guntur Gêni, Pêcalang Si Sambangyuda, Sarwaka ing Sukawati, Ing Padhas Nyai Ragil, Jayalêlana ing Suruh, Buta Trênggiling Têgal, Ing Têgal si Guntinggêni, Kaliwungu Gutuk Api kang rumêksa.

7. Magêlang Ki Samahita, Dhadhungawuk Gêsêng nênggih, Buta Salewah ing Pajang, Manda-Manda ing Matawis, Paleret Rajêgwêsi, Kutha Gêdhe Nyai Panggung, Pragota Kartasura, Cirêbon Setan Koberi, Juru Taman ingkang aneng Têgallayang.

8. Gênawati ing Seluman, Ki Kêmandhang Wringinputih, Si Karêtêk Pajajaran, Sapuregel ing Batawi, Ki Drusul ing Banawi, Ingkang aneng Gunung Agung, Ki Tlêkah Ngawang-Awang, Ki Tlapa Ardi Mêrapi, Ni Taruki ingkang ana ing Tunjungbang.

9. Setan Karêtêg ing Kêndhal, Pamasuhan Sapuangin, Kresnapada ing Rangkudan, Ni Pandhansari ing Srisig, Kang aneng Wanapêthi, Palangkarsa wastanipun, Ki Candhung ing Sawahan, Plabuhan Ki Dudukwarih, Buta Tukang kanganeng ing Palayangan.

10. Ni Rara Aris ing Bawang, Ing Tidhar Ki Kalasêkti, Ki Padurêksa Sundara, Ki Jalela Ardi Sumbing, Ngungrungan Kêsbumurti, Ki Krama Ardi Rêbabu, Nirbangsan Ardi Kombang, Prabu Jaka Ardi Kêlir, Ajidipa Gunung Kêndhêng kang den rêksa.

11. Ing Pasisir Butakala, Cilacap Si Kalasêkti, Kalanadhah ing Banyumas, Sigaluh aran si Prênthil, Banjaran Ki Wêwasi, Kyai Korog ing Lowanu, Gunung Duk Gêniyara, Nyai Burêng Parangtritis, Drêmbamoha ingkang aneng Prabalingga.

12. Ki Kêrta Sangkalbolongan, Kêdhungandhong Winongsari, Ing Jênu Ki Karungkala, Ing Pêngging Banjaransari, Ing Kêdhu kang nênggani, Anama Ki Candralatu, Gunung Kêndhalisada, Kêthek Putih kang nênggani, Buta Glêmboh ing Ngayah Kahyanganira.

13. Ni Rara Denok ing Dêmak, Ing Tuban Nyai Bathithing, Ing Kuwu Ki Juwalpayal, Si Jungkit ing Guyang nênggih, Trênggalek Ni Daruni, Tunjungseta Cêmarasewu, Kalawadhung Kênthongan, Jêpara Ki Wanengtaji, Bagus Anom ing Kudus kahyanganira.

14. Magiri Ki Manglarmonga, Ing Gadhing Ki Puspasari, Kêtanggung Ki Klanthungwêlah, Brengkelen si Banaspati, Ni Kopek ing Manoreh, Ing Têngah si Sabuk Alu, Nglandhak Ki Mayangkara, Si Gori Kêdhungcuwiri, Baruklinthing ingkang ana ing Bahrawa.

15. Sunan Lawu Ngargapura, Ing Bayat si Puspakati, Cucuk Dandang ing Kartikan, Kulawarga Tasikwêdhi, Kali Opak winarni, Sanggabuwana ranipun, Si Kecek Pajarakan, Cingcinggoling Kaliwêning, Ing Dahrama Ula Wêlang kang rumêksa.

16. Kang aneng Kayulandeyan, Ki Daruna Ni Daruni, Bagus Karang aneng Roban, Sangujaya Udanriris, Sidarengga Dalêpih, Si Gadhung Kêdhunggarunggung, Kang aneng Bojanêgara, Citranaya kang nênggani, Gênapura kang aneng ing Majapura.

17. Ki Logenjang ing Juwana, Ing Rêmbang si Bajulbali, Ki Lender ing Wirasaba, Madura Ki Buta Gigris, Kang ngrêksa ing Matêsih, Jaranpanoleh ranipun, Ki Londir Pacangakan, Si Landhêp Jatisan, Ondar Andir ingkang aneng Jatimalang.

18. Arya Tiron ing Lodaya, Sarpa Bangsa ing Pêning, Pêrang Tandang ing Kasanga, Ing Crewek Ki Mandamandi, Setan Telaga Pasir, Ingkang Aran Ki Jalinglung, Kalanadhah ing Tuntang, Bancuri Kalabancuri, Kang rumêksa sukune Ardi Baita.

19. Ragadungik Randhulawang, Ing Sêndhang Rêtna Pêngasih, Buta Kapa ing Prambanan, Mbok Sampurna Ardi Wilis, Raden Galinggangjati, Kang rumêksa Gajahmungkur, Si Gêndruk ing Talpêgat, Ngêmbel Raden Panjisari, Pagêrwaja kang aran Udakusuma.

20. Ki Pênthul ing Pakacangan, Cangakan si Dodotkawit, Kalangkung ing sêktinira, Titihane kuda putih, Cakra payungneki, Lar waja kêkêmulipun, Pan sami rinajegan, Rêspati rajege wêsi, Camêthine pat-upate ula lanang.

21. Sinabêtakên mangetan, Ana lara têka bali, Tinulak bali mangetan, Mangidul panyabêtneki, Lara prapta ambalik, Tinulak bali mangidul, Ngulon panyabêtira, Ana lara têka bali, Pan tinulak mangulon bali kang lara.

22. Mangalor panyabêtira, Ana lara têka bali, Mangalor bali tinulak, Anulya nyabêt manginggil, Lara prapta ambalik, Tinulak bali mandhuwur, Nulya nyabêt mangandhap, Ana lara têka bali, Pan tinulak larane bali mangandhap.

23. Dhêmit kang aneng Jêpara, Lan dhêmit kang aneng Pathi, Kalangkung kasêktenira, Juweya wastaneki, Gus Rema Tambaksuli, Kudapêksa ing Dêlanggung, Ki Klunthung Ringinpêthak, Ni Gambir ing Glagahwangi, Si Kacubung Kadilangu kang den rêksa.

24. Ni Dulêg ing Pamancingan, Guwa Langse Nini Suntring, Kang rumêksa Parang Wedang, Raden Arya Jayengwêsthi, Kabeh urut pasisir, Kulawarga Nyai Kidul, Sampun pêpak sadaya, Para Ratuning Dhêdhêmit, Nusa Jawa paugêran kang rumêksa.